Efek Dunning-Kruger Vs Impostor Syndrome dan Pajak

 

Ada 2 (dua) hal yang sangat menarik ketika berinteraksi dengan banyak orang terkait pajak yaitu pertama penulis bertemu dengan beberapa orang yang penulis yakin bahwa mereka merupakan orang sangat ahli di bidang pajak namun mereka menyatakan bahwa mereka merasakan mereka tidak menguasai bidang tersebut.

Kedua, dalam lebih banyak kesempatan lagi, penulis bertemu banyak orang yang mengatakan bahwa mereka mengetahui bahwa mereka mengerti tentang pajak namun dari diskusi dan tulisan mereka ternyata keyakinan mereka akan keahlian mereka tersebut belumlah sebanding dengan  kenyataannya.

Fenomena yang pertama disebut dengan Impostor Syndrome dan fenomena yang kedua disebut dengan Dunning-Kruger Effect.

Sangat menarik ketika para orang yang sukses yang mempunyai Impostor experience merasakan bahwa mereka mengganggap bahwa keberhasilan mereka karena faktor keberuntungan, memang waktunya, dan seringkali menganggap bahwa orang lain sebenarnya lebih pintar dari dia hanya saja mereka tidak mengerti. Dalam hal ini, Impostor yang belum sukses seringkali merasa rendah diri dan merasa tidak mempunyai kualifikasi untuk pekerjaan tertentu walaupun sebenarnya orang lain merasa bahwa dia mempunyai potensi.

Lebih menarik lagi memang kutub lainnya yang dijelaskan oleh penelitian Dunning-Kruger yang mendapat hadiah Nobel tahun 2000 yaitu orang yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup cenderung menganggap bahwa dirinyalah yang paling hebat dan paling pintar. Hal tersebut dijelaskan dalam grafik diatas, dimana titik puncak adalah dimana ada orang yang baru tahu sedikit namun sudah merasa paling diatas yang lainnya dan biasanya tidak mau menerima pendapat orang lain (dalam bahasa lain bisa dikatakan bahwa dia “tidak tahu bahwa dia tidak tahu”).

Seiring dengan penambahan pengalaman dan pengetahuan, orang tersebut bisa jadi akan merasakan bahwa banyak orang lain yang lebih pintar dan hebat lagi dan grafik tersebut akan menurun sampai ke titik valley of despair (lembah keputusasaan). Kemudian apabila pengetahuan dan pengalamannya bertambah lagi , dia akan naik kepercayaannya sampai menjadi ahli expert/guru.

Secara teoritis menarik untuk ditanyakan adalah seberapa lama fase Mt. Stupid (gunung kebodohan), lembah keputusasaan dan lereng pencerahan (slope of enlightment) bagi setiap orang?

Memang terdapat kritik atas teori tersebut bahwa hal itu adalah efek perasaan (merasa bisa atau merasa tidak bisa) yang belum tentu sesuai dengan realitas. Namun, setidaknya kita dapat mengetahui dan menilai diri kita sendiri sehingga kita bisa mengevaluasi bahwa “kita tahu bahwa kita tidak tahu”.

NB: bisa jadi saya menulis ini saya berada di puncak Mt. Stupid karena saya bukan ahli psikologi atau dengan menulis ungkapan “saya berada di puncak Mt. Stupid” menunjukkan saya impostor , tapi setidaknya saya berbagi pengetahuan dengan anda semua dan mendapat pahala berlipat di bulan ramadhan ini.

Cheers

Advertisements

Leave a comment

Filed under Belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s