Ilmu Silat dan Ilmu Pajak

hinakelana

“…Lenghou Tiong dan lain-lain sama heran, pikir mereka, “Ilmu silat Hoa-san-pay tetap ilmu silat Hoa-san-pay, mengapa bisa terbagi menjadi dua golongan antara yang baik dan yang jahat? Mengapa selama ini belum pernah terdengar Suhu menceritakan soal ini?”

Leng-sian yang usilan segera bertanya, “Ayah, yang kita latih adalah ilmu silat yang baik dan asli, bukan?”

“…Sudah tentu,” sahut Put-kun. “Tapi golongan yang sesat itu justru mengaku pihak mereka adalah golongan yang baik dan tulen, pihak kita yang dituduh golongan yang sesat. Namun lama-kelamaan antara yang baik dan jahat dengan sendirinya tersisihkan, golongan yang sesat itu akhirnya buyar lenyap dengan sendirinya. Selama 40 tahun ini golongan mereka sudah tidak terdapat lagi di dunia ini.”

“…Titik pokok ilmu silat Hoa-san-pay terletak pada hal latihan Lwekang, bila Lwekang sudah jadi, maka lancarlah dalam cabang-cabang ilmu silat lainnya dan ini adalah cara tulen dari perguruan kita. Tapi di antara tokoh-tokoh angkatan tua perguruan kita dahulu ada suatu golongan yang menganggap letak inti ilmu silat kita berada pada ilmu pedang, jika ilmu pedang sudah sempurna, biarpun Lwekang kurang mendalam juga cukup untuk mengalahkan musuh. Dan di sinilah perbedaan paham antara golongan yang benar dan yang sesat.

Paragraf diatas adalah penggalan dari cerita silat karya Jin Yong yang berjudul Hina Kelana (Siaw Go Kang Ouw) dimana Lenghou Tiong akhirnya dipersalahkan oleh gurunya Gak Put-Kun karena mempelajari ilmu pedang yang dianggap sekte sesat walaupun sebenarnya sekte pedang juga berasal dari aliran perguruannya.

Dari penggalan dialog diatas, kita sadar bahwa terdapat 2 (dua) jenis ilmu yaitu Lwekang (tenaga dalam) dan ilmu pedang (senjata). Sebenarnya diluar keahlian tersebut terdapat banyak ilmu lainnya yang tak kalah mumpuni seperti ilmu gwakang (tenaga kasar), ginkang (meringankan tubuh), dan sihir. Namun memang secara umum keahlian dalam lwekang maupun senjata memang lebih dominan dalam menentukan keunggulan seorang pendekar.

Apabila kita melihat lebih dalam lagi, ilmu lwekang sendiri berbeda-beda jenisnya. Ada yang bersifat dingin atau panas (im-yang) dan juga terdapat perbedaan efek yang ditimbulkannya seperti terbakar, luka dalam serius, racun, dsb. Sementara itu, untuk ilmu senjata, terdapat banyak senjata yang dapat digunakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Walaupun secara umum pedang digunakan, namun terdapat juga perguruan lain yang menggunakan golok, cambuk, tombak, dan berbagai senjata lainnya.

Seorang yang menguasai ilmu pedang belum tentu jago menggunakan golok karena terdapat perbedaan karakter senjata. Pedang lebih ringan, tajam pada dua sisi, dan fleksibel. Sementara golok lebih berat dan kuat sehingga membutuhkan tenaga yang lebih besar untuk memainkannya.

Bagaimana dengan ilmu pajak?

Kita mungkin paham bahwa ibunya ilmu pengetahuan memang adalah filsafat. Dalam dunia kangouw, tak dipungkiri lagi filsafat tersebut juga sangat berpengaruh terhadap gaya bersilat. Dalam ilmu pajak, konsep filsafat juga tak luput mempengaruhi sampai pada   konsep keadilan, kemakmuran, dsb.

Ilmu pajak juga bisa bermacam-macam. Seseorang yang baru belajar pajak akan belajar dasar-dasar perpajakan (kuda-kuda dalam istilah dunia persilatan) yang tentunya dipengaruhi oleh ilmu ekonomi, hukum, politik, dsb.

Selanjutnya, naik pada tahapan selanjutnya adalah ilmu yang lebih spesifik seperti PPh, PPN, KUP, BM, dan PBB. Dalam tataran ini, seorang yang menguasai PPh secara mendalam akan kurang mendalam penguasaannya terhadap ilmu lainnya seperti PPN, KUP, dsb.

Dalam tahapan berikutnya, penguasaan terhadap PPh pun menjadi terspesialiasi, misalnya Pajak Internasional, PPh Pot Put, PPh Badan dan semacamnya. Hal ini sama seperti seorang spesialis ahli pedang yang kurang menguasai pemakaian lembing.

Adakah yang bisa menguasai semua?

Konon, pendekar yang menguasai lwekang yang sempurna tidak membutuhkan senjata lagi karena lengan baju pun bisa menjadi senjata yang tajam seperti sebilah pedang. Hal tersebut kita bisa lihat bagaimana kehebatan Yoko dalam Kembalinya Pendekar Rajawali/Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar (Sin Tiaw Hiap Lu).

Konon, Lenghou Tiong pun dalam cerita diatas (Hina Kelana) akhirnya menjadi pendekar pilih tanding dan mampu mengalahkan ahli lwekang dengan keahlian pedangnya dengan hanya berkonsentrasi pada kelemahan gerakan lawan.

Apakah anda bisa seperti Yoko ataupun Lenghou Tiong dalam ilmu pajak?

Jawabannya tentu saja bisa asalkan Anda mau berusaha.

Wallahu a’lam….

Advertisements

Leave a comment

Filed under Belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s