Dunia Kang-Ouw (dan Pajak)

Apabila anda penggemar cerita silat, tentunya Anda akan mengenal Chin Yung/Jin Yong dengan karya fenomenalnya yang dahulu pernah ditayangkan di TV dengan Andi Lau yang berperan sebagai Yo Ko (wah jadi ketahuan umurnya :-)). Anda juga mungkin familiar dengan Kho Ping Hoo dengan banyak karyanya yang sangat menarik.
Lalu, apa hubungannya cerita silat tersebut dengan pajak?

Dunia kang-ouw (persilatan) yang digambarkan pada buku-buku tersebut tidak berbeda dengan dunia perpajakan. Akan kita temukan dimana banyak orang yang mengadu ilmu, entah untuk unjuk kemampuan, untuk tujuan komersial, atau memang tugasnya seperti itu.

Apabila anda pernah membaca trilogi ketiga buku karya Chin Yung dibawah ini, maka pemahaman kita kurang lebih akan sama.
1. Pendekar Pemanah Rajawali (Sia Tiaw Eng Hiong
2. Kembalinya Pendekar Rajawali/Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar (Sin Tiaw Hiap Lu)
3. Pedang Langit dan Golok Naga (To Liong To)

Hal yang sama juga didapat apabila anda pernah membaca karya Kho Ping Hoo seperti Suling Emas, Mutiara Hitam dsb.

Terdapat berapa kondisi umum dalam dunia kang-ouw yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Pertama, terdapat prinsip ‘diatas langit masih ada langit‘. Dalam dunia kang-ouw, prinsip tersebut menjadi pegangan bagi kalangan pendekar. Prinsip tersebut berarti bahwa sehebat apapun ilmu silat seseorang, (suatu saat) pasti akan ada yang melebihi ilmu silatnya. Ilmu silat (baca: pajak) selalu berkembang, ditambah dan diperbarui sehingga orang yang menjagoi dunia persilatan pun akan selalu berubah. Selain itu, ilmu ginkang (meringankan tubuh) sinkang (tenaga dalam/kanuragan) dan gwa kang (tenaga fisik) akan selalu terus diasah oleh para jago silat tersebut sehingga praktis, tak ada satupun jago yang bisa bertahan lama di puncak piramida. Dengan jurus dan ilmu baru saja misalnya Thi-ki-i-beng (ilmu yang bisa menyedot sinkang lawan), Cia Keng Hong bisa menjadi jago pilih tanding.

Dalam dunia pajak, bisa jadi seseorang jago pajak penghasilan misalnya di suatu daerah, namun dunia tidaklah selebar tempurung. Di daerah lainnya akan terdapat banyak lagi yang lebih jago, belum lagi yang berada di kota raja (Jakarta). Akan tetapi, diatas mereka, masih banyak kita temukan para senior ahli pajak yang lebih paham, diatasnya lagi, di tingkat dunia banyak lagi yang lebih cerdas. Akhirnya sulit dikatakan siapakah yang bisa lebih hebat ilmu pajaknya.

Kedua, sehebat apapun seorang guru, tanpa tulang yang baik (baca: bakat bersilat) dan otak yang cemerlang, maka seseorang akan menjadi pesilat biasa-biasa saja. Tulang yang bagus sebenarnya merupakan prasyarat utama menjadi jago pilih tanding walaupun bisa jadi otak tidaklah terlalu cemerlang. Hal tersebut bisa kita lihat dari Kwee Ceng, Pendekar Pemanah Rajawali, yang dengan kemampuan otak yang terbatas namun dengan ketekunannya (disamping  sifat baik dan keberuntungan tentunya) pada akhirnya mampu menjadi pendekar nomor satu. Hal tersebut berbeda jauh dengan putrinya yang sekaligus muridnya yaitu Kwee Hu, yang hanya mempunyai ilmu silat yang tidak seberapa. Bisa kita bandingkan dengan Yo Ko, misalnya, yang mempunyai bakat dan kecerdasan, dalam usia muda bahkan bisa melampaui pencapaian ilmu silat Kwee Ceng.

Ketiga, sehebat apapun bakat, secerdas apapun pesilat, apabila tidak mempunyai guru yang merupakan pesilat tingkat tinggi, maka hal itu tidak akan berarti. Bisa kita bayangkan apabila Yo Ko tidak bertemu dengan Siao Liong Lie (bibi Lung)  yang kemudian mengajarinya silat dan tidak mendapat petunjuk dari para datuk dunia persilatan seperti Awyang Hong, Ouy Yok Su, Ang Chit Kong, dsb, maka kepandaian Yo Ko tak akan bisa sedemikian hebat.

Pada poin kedua dan ketiga, baik dalam dunia persilatan yang mengutamakan fisik dan kecerdasan, dalam dunia pajak (kita kesampingkan fisik) kecerdasan menentukan pemahaman seseorang akan ilmu pajak sementara keahlian merangkai kata dan beretorika menjadikan aplikasi ilmu tersebut menjadi ampuh. Namun, (seperti halnya Kwee Ceng), sepanjang kita mau berusaha dengan giat, maka lambat laun kemampuan akan bertambah apabila kita mau terus mengasah ilmu dengan terus belajar dan berlatih tanding (baca: berdiskusi). Petunjuk dari para tetua dunia persilatan yang didapat misalnya dengan berdiskusi langsung, mengikuti seminar atau kegiatan lainnya akan sangat membantu kita memahami sendi filosofis ilmu perpajakan.

Keempat, kegigihan dan latihan bertahun-tahun menjadikan ilmu silat meningkat. Dibuku silat manapun, tak ada pesilat yang menjadi ahli tanpa berlatih, tak ada pesilat kelas tinggi yang tak merasakan kerasnya dunia persilatan dengan risiko kematian. Para murid yang sudah siap diharuskan untuk turun gunung menimba pengalaman, karena dunia tak hanya apa yang disampaikan oleh sang guru saja.

Pada poin keempat ini, memang tak terbantahkan lagi, ilmu pajak itu adalah skill (keahlian), bukan hanya mengandalkan pemahaman. Semakin banyak berlatih dan berlatih tanding serta belajar dari banyak pengalaman akan menjadikan seseorang menjadi ahli yang pilih tanding.

Kelima, takdirlah akan sangat menentukan. Dalam dunia kang-ouw, banyak peristiwa dimana nasib baik menjadikan sang pesilat berjodoh dengan suatu hal yang sangat berpengaruh terhadap ilmu silat. Misalnya, nasib baik Kwee Ceng meminum darah ular yang ternyata sudah diberikan ramuan sehingga tenaga dalamnya bisa meningkat. Lalu bagaimana dia bisa berjodoh dengan kitab Kiu Im Cin Keng yang akhirnya menjadikannya jago dunia persilatan. Selajutnya bagaimana beruntungnya Yo Ko diberi makan buah merah penambah tenaga oleh sang rajawali yang ternyata buah tersebut hanya berbuah sekali dalam puluhan tahun.

Poin terakhir memang menunjukkan bahwa kita hanya manusia ‘untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak‘ rejeki dan takdir tidak akan berpindah. Sehebat apapun seseorang berusaha, apabila bukan rejekinya, maka kesempatan tak akan datang. Namun, apabila belum siap, kesempatan yang datang pun akan sia-sia. Apabila sudah rejekinya, siapapun tak bisa menghalangi seperti beruntungnya Kwee Ceng, Yo Ko, dan banyak pesilat lainnya.

Sebagai penutup, penulis menyimpulkan bahwa baik dunia kang-ouw maupun dunia pajak, prinsip-prinsip yang dijelaskan diatas kurang lebih akan sama.

Leave a comment

Filed under Belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s