Sam Kok dan Pajak

Buku Sam Kok

Anda mungkin pernah membaca novel sejarah Sam Kok yang tersedia dalam banyak versi termasuk seri komiknya. Anda juga mungkin pernah menonton film yang berkisah tentang salah satu momen peperangan pada jaman tiga kerajaan seperti misalnya perang Chibi di Film Red Cliff atau kisah heroik jenderal Zhao Zilong dalam Three Kingdoms: Resurrection of the Dragon. Barangkali mungkin anda pernah memainkan game bertemakan kisah tiga kerajaan yang diceritakan di Sam Kok ini seperti game Romance of the Three Kingdom dalam platform Playstation, Xbox ataupun PC.

Ya, kisah itulah yang sedang kita bicarakan (saya asumsikan anda sudah membaca ceritanya). Banyak sekali hal-hal yang kita bisa ulas tentang kisah sejarah tersebut, pajak, misalnya.

Pemerintahan, Perang, dan Pajak
Sebagaimana kita ketahui, pemerintahan kekaisaran membutuhkan dana yang besar yang sumber utamanya tentu pajak yang dipungut dari masyarakat. Peperangan yang berlarut-larut dalam kisah tersebut membutuhkan jutaan prajurit yang banyak akhirnya gugur di medan perang. Berapa banyak dana yang dibutuhkan untuk mempersenjatai prajurit, membuat ribuan kapal, membuat benteng, mobilisasi logistik sekian juta tentara di medan perang dan kebutuhan lainnya.

Seakan logis kadangkala pajak yang dilabeli sebagai penyebab kesusahan masyarakat. Padahal, penyebab peranglah yang seharusnya dituding menjadi dalang. Dalam kondisi perang, tak ayal memang masyarakat yang akan menanggung beban karena negaralah yang melindungi masyarakat.

Dalam pemerintahan yang negaranya menang perang, kadangkala pajak yang dibayar oleh masyarakat malah menjadi modal utama dalam mensejahterakan masyarakat. Dalam sejarah tertulis bagaimana Amerika Serikat menaikkan pajak penghasilan orang pribadi sampai dengan 95% pada perang dunia pertama. Kemenangan demi kemenangan dalam perang dunia I, II, dan perang dingin yang ditopang oleh sumber dana pajak masyarakat akhirnya menjadikan negara tersebut menjadi negara Adidaya.

Kepemimpinan

Saya kira anda mungkin setuju bahwa tak ada orang yang sempurna. Hal yang sama dibuktikan dalam kisah Sam Kok bagaimana para tokohnya (kebanyakan pemimpin) memiliki karakter yang kuat namun sekaligus kelemahan.

Lu Bu, seorang jenderal yang kuat, perkasa, bisa melawan banyak musuh sekaligus, tak terkalahkan di medan perang. Ternyata keunggulan fisiknya tak diimbangi dengan keahlian berpikir stratejiknya sehingga seringkali kena perangkap. Selain itu, dia terlalu gampang dibujuk dengan harta (permata dan kuda merah) dan wanita (Diao Chan, wanita tercantik se China) sehingga akhirnya dia berbalik arah memusuhi dan membunuh dua orang ayah angkatnya. Pada akhirnya, kejayaan Lu Bu berakhir karena jebakan.

Cao Cao, seorang jenderal yang cemerlang, bervisi strategis dan mampu menyemangati bawahan. Keunggulan tersebut ternyata menjadikannya lupa diri sehingga muncul ambisinya menjadikan dirinya kaisar. Dia malah membunuh orang yang membantunya melarikan diri. Keinginan atas balas dendam karena kematian keluarganya menjadikannya mata gelap dan ingin membumi hanguskan semuanya.

Sun Jian, keturunan Sun Tzu, mempunyai kemampuan bertempur dan taktik berperang sekaligus dan jenderal yang cemerlang. Sayangnya karena menemukan stempel tanda kekaisaran dia jadi tergoda kekuasaan.

Zhang Fei, berbadan bulat besar dan kuat, dan ahli bertempur. Sayangnya berpikiran pendek dan pemarah. Suka minum-minum sehingga seringkali kehilangan akal sehat dan kalah bertempur karenanya.

Guan Yu, bertubuh tinggi besar dengan kekuatan fisik yang luar biasa, bijaksana, dan ahli bertarung. Dia dapat menahan diri dan sangat berbakti. Walaupun dibujuk rayu dengan apapun oleh Cao Cao (termasuk pemberian kuda merah bekas Lu Bu), kesetiaannya terhadap saudara angkatnya Liu Bei tak dapat dihilangkan. Sayangnya kharismanya tak bisa menyaingi Liu Bei dan dia juga memang tidak punya ambisi jadi pemimpin.

Liu Bei, keturunan pendiri dinasti Han pertama, penyabar, perhatian dan pintar. Semua yang dilakukannya adalah buat rakyat dan kaisar. Figur pemimpin yang disukai rakyatnya karena belas kasihnya. Sayangnya misalnya karena tak terlalu ambisius, dia rela begitu saja mau menyerahkan kota Xuzhou kepada Lu Bu karena menurutnya Lu Bu lebih pantas. Selain itu banyak peluang bagus yang bisa diambilnya dalam peperangan, namun dia tidak memilih hal tersebut karena pertimbangan perasaan (argumen ini bisa jadi dilihat dari perspektif berbeda karena keluhuran budi Liu Bei dia tidak mengambil pilihan keputusan yang bertentangan dengan hati nuraninya).

Dari semua tokoh yang disebutkan, tak ada yang memiliki semua karakter yang baik dan mereka masing-masing mempunyai keterbatasannya sendiri-sendiri. Kita bisa membayangkan apabila ada yang mempunyai jiwa tenang, pengasih, tanpa ambisi pribadi seperti Liu Bei, kesetiaan dan kekuatan seperti Guan Yu, daya ledak seperti Zhang Fei, strategis seperti Sun Jian, ambisi, visi dan strategi seperti Cao Cao, keahlian dan keterampilan bertempur seperti Lu Bu, tentunya manusia itu akan begitu sempurna. Sayangnya itu tak ada, karena manusia punya bukanlah dewa ataupun malaikat.

Dari semua tokoh diatas, seakan kita tidak melihat kepada para penasihat militer para jenderal tersebut. Sebenarnya dalam kisah Sam Kok diceritakan bahwa para penasihat militer yang mempunyai otak cemerlang dan ide brilian sangat menentukan keberhasilan strategi para pimpinannya. Sebut saja Zhuge Liang yang seperti dewa bisa memastikan apa yang akan terjadi dan kemampuan hebatnya dalam bersilat lidah, Pang Tong si Phoenix muda, Xu Shu, Lu Su dan banyak lainnya. Namun, lagi-lagi saran para penasihat itu tergantung pilihan pimpinan apakah digunakan atau tidak, dan karenanya sering terjadi kesalahan strategi ketika ide penasihat yang mumpuni tidak ditanggapi yang kemudian berakibat tragedi.

Sejarah terus akan mencatat keberhasilan kepemimpinan dikaitkan dengan pimpinannya. Pada masa Cao Cao, para musuh akan langsung jerih dan takut bertempur ketika melihat kedisiplinan pasukan Cao Cao yang merepresentasikan kekuatan dan ketangguhan bertempurnya. Rakyat sangat hormat dan simpati serta rela berkorban untuk Liu Bei.

Diluar hal diatas, toh takdirlah sebenarnya yang jadi penentu. Secemerlang apapun Cao Cao, sehebat apapun Liu Bei (dengan bantuan Zhuge Liang) dan sekuat apapun Sun Qian, mereka tak bisa menyatukan ketiga kerajaan. Toh, akhirnya yang bisa melaksanakan cita-cita mereka adalah orang lain yang bukan dari keluarga mereka yaitu Sima Yan.

Penutup
Epos Sam Kok memang mengedepankan sisi sejarah dan nilai heroik terlepas dari apakah tokoh tersebut salah atau tidak karena itu adalah bagian dari sejarah. Namun, dari sisi pajak kita melihat bahwa beban peperangan itu pasti akan didanai dari dana masyarakat dalam bentuk pajak masyarakatnya sendiri ataupun bisa berbentuk penjarahan pada harta benda musuh dalam peperangan. Sejarah menceritakan kepada kita bahwa manusia boleh berusaha, tapi takdirlah yang akhirnya menjadi panglima. Dan, lembaran sejarah akan selalu terulang kembali.

Leave a comment

Filed under Belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s