Quo Vadis dan Pajak

quo vadis pajak

Minggu lalu, saya membeli novel terjemahan yang ditulis oleh Henryk Sienkiewicz dengan judul Quo Vadis? Buku yang sangat menarik dan berkelas sastra yang [mungkin] untuk ukuran saya  ketinggian (karenanya saya belum selesai membaca sampai akhir). Tak salah kiranya penulis novel ini dianugerahi Hadiah Nobel bidang kesusastraan tahun 1905 karena karya tersebut.

Tapi, bahasan kita bukanlah tentang isi novel itu, namun pada kata yang tertera pada judulnya. Anda mungkin sering mendengar istilah Quo Vadis. Selama ini mendengar kata tersebut membuat rasa penasaran semakin dalam untuk mengetahui arti istilah tersebut.

Penulis melakukan browsing singkat untuk mencari tahu istilah tersebut, dan berikut adalah hasil penelusuran singkat informasi secara daring.

Dictionary.com mendefinisikan istilah tersebut dengan:

“u(n)known

  1. where are you going?

Word Origin
Latin: from the Vulgate version of John 16:5″

Dari definisi tersebut diketahui bahwa Quo Vadis adalah istilah yang berasal dari bahasa latin yang bermakna “Kemana kita akan pergi?”. Lebih lengkapnya bisa dilihat di Wikipedia yang menjelaskan tentang istilah tersebut di sini.

 Quo Vadis dan Pajak

Beralih dari definisi, mari kita lihat tema-tema terkait dengan perpajakan yang menggunakan kata quo vadis. Hasil pencarian secara daring dapat ditemukan beberapa tema dan kegiatan seperti:

  1. Tulisan Yustinus Prastowo dengan judul: Quo Vadis Kebijakan Perpajakan Indonesia yang dimuat di Kompas Cetak tanggal 12 Januari 2016
  2. Diskusi dengan tema Diskusi Publik Nasional “Quo Vadis Platform Politik Perpajakan Capres 2014
  3. Tulisan Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D dengan judul: Quo Vadis Kebijakan Fiskal

Kalau kita cermati tulisan dan kegiatan tersebut dengan dikaitkan terhadap definisi yang ada, maka bisa kita simpulkan [walaupun mungkin masih terlalu prematur] bahwa istilah Quo Vadis dikaitkan dengan perspektif, harapan, dan tantangan masa depan. Para penulis dan peserta diskusi mengulas dan membahas tentang arah kebijakan pajak di masa lalu baik yang berhasil maupun yang belum sesuai. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan kondisi sekarang yang (biasanya) masih belum memuaskan sehingga perlu perlu perubahan. Selanjutnya kebijakan masa depan diproyeksikan agar dapat mengatasi masalah masa sekarang dan tantangan di masa datang.

Apabila kita masuk lebih teknis, maka bisa kita gambarkan sebagai berikut: Q: Apa arah kebijakan masa lalu? A: misalnya reformasi perpajakan dengan sistem self-assessment.  Q: Apa masalah sekarang? A: misalnya realisasi target penerimaan masih jauh dan Tax Ratio masih rendah. Q: Apa solusi di masa datang? A: misalnya perubahan arah kebijakan, reformasi birokrasi, pertukaran informasi, dll. Terkadang pembahasan menjadi menarik ketika pengambilan keputusan harus memilih kepentingan jangka pendek atau kepentingan jangka panjang yang tentunya masing-masing mempunyai argumen sendiri-sendiri.

Berdasarkan ulasan tersebut, maka istilah Quo Vadis menjadi mirip dengan outlook. Apabila kita cari istilah outlook yang terkait dengan perpajakan, maka dapat kita temukan beberapa informasi seperti:

  1. Seminar “Indonesia Tax Outlook 2015 & International Tax Update
  2. Majalah Inside Tax dengan tema: Tren, Outlook, dan Tantangan Perjajakan 2016: Apa Kata Mereka?

Lantas, apakah Quo Vadis sama dengan Outlook? [Mungkin] sama, tapi [mungkin] bisa juga berbeda.

Akhirnya, tentu arah masa depan bisa kita lihat dari kebijakan masa datang. Apa yang diputuskan hari ini akan menentukan arah dan nasib selanjutnya.

 

 

Leave a comment

Filed under Belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s