Shui Hu Zhuan (108 Pendekar Tepi Air) dan Pajak

Shui Hu Zhuan Pajak

Kali ini kita akan membahas sebuah buku cerita karangan Shi Nai An yang diterbitkan pertama kali pada masa Kaisar Jia Jing (1522-1566).

Buku ini mengisahkan tentang perjalanan 108 orang pada zaman dinasti Song yang berkumpul di gunung Liang menjadi perampok bagi pedagang maupun orang yang melewati daerah sekitar gunung tersebut. Banyak dari mereka yang merupakan pelarian dari orang terhukum oleh pemerintah maupun orang yang membelot dari pemerintahan karena anggapan bahwa pemerintahan waktu itu sangat korup. Walaupun mereka melakukan perbuatan yang jahat, namun dalam hati mereka masih ingin mendapatkan pengampunan dari kaisar dan berbakti pada negara

Penulis dengan apik menggambarkan karakter dari masing-masing 108 orang tokoh. Penonjolan emosi dan kemampuan khusus dari masing-masing tokoh sangat detil yang mencerminkan bahwa penulis benar-benar mengerti berbagai watak seseorang. Namun, tentunya terdapat fokus yang utama dari cerita ini yaitu fokus cerita tentunya banyak ditekankan kepada pimpinan yaitu Song Jiang yang tidak bisa kungfu karena hanya bekas juru tulis akan tetapi Song Jiang dikenal di segala penjuru karena kedermawanannya sehingga dia dijuluki ‘hujan yang turun pada waktunya’

Cerita ini tidak cocok untuk dibaca remaja karena ceritanya menurut saya pada bagian tertentu cenderung sadis. Hal tersebut mungkin wajar mengingat yang diceritakan adalah para penyamun. Namun tetap saja tidak layak dikonsumsi oleh orang muda karena pemikiran kurang baik seperti dalam buku dapat berpengaruh seperti dalam kata pengantar disebutkan oleh Pearl S Buck bahwa: “Ada pepatah yang mengatakan, alangkah baiknya jika para remaja tidak membaca Shui Hu Zhuan, dan orang berusia lanjut yang berbudi dan bijaksana tidak membaca Sam Kok'”

Anda mungkin terus bertanya, Apa hubungan tulisan ini dengan Pajak?

Menurut saya, penggambaran kondisi Tiongkok pada zaman itu sangatlah tepat untuk mempelajari sejarah tentang pajak di Tiongkok pada masa itu. Dalam buku ini memang digambarkan bahwa pemerintah pada zaman itu sewenang-wenang terhadap rakyat kecil dan penguasa berlomba-lomba untuk menumpuk harta dan hidup bermegah-megahan. Budaya suap meraja lela dimana-mana dengan contoh bahwa agar para tahanan diperlakukan baik, maka semua petugas penjara disuap oleh keluarga para tahanan. Memang tak salah kiranya akhirnya dinasti demi dinasti silih berganti mulai dari dinasti Xia 21 abad sebelum masehi sampai dengan Dinasti Qing berakhir pada tahun 1911. Kalau anda mencermati kisah tiga kerajaan /Sam Kok, anda akan melihat betapa banyak peperangan yang menghabiskan dana banyak dan tentunya juga jiwa raga (namun juga menimbulkan pahlawan).

Namun tentunya dari perjalanan para dinasti tersebut selain masa-masa suram, terdapat masa-masa kejayaan dimana masyarakat menjadi makmur dan sejahtera. Selain itu terdapat peninggalan yang merupakan hasil karya besar zaman itu yang masih bisa dinikmati sampai sekarang ini misalnya istana kaisar dan tembok besar China. Dari mana sumbernya? tentunya dari pajak.

Apabila kita melihat lagi sejarah, pada zaman kerajaan di Tiongkok, penerimaan pajak digunakan untuk membangun tembok besar, kekuatan militer, istana kekaisaran, fasilitas umum dan perayaan keagamaan serta pengadilan kerajaan. Waktu itu sumber penerimaan pajak didominasi oleh pajak atas hasil bumi. Selanjutnya kekaisaran memungut pajak atas garam yang dikenakan pada rumah tangga. Sumber pajak berganti pada zaman dinasti Ming ketika pajak atas konsumsi garam dipindah pada produksi dan distribusi garam, tanah, transaksi bisnis, dan atas orang.

Terdapat pembayaran pajak atas wajib militer yang disebut “Fu” yang digantikan dengam membayar berupa sutra, gandum atau uang. Selain itu, bea juga dikenakan pada produsen emas, perak, timah baja, tembaga, teh, minuman, dan atas tembakau.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah diatas? Basis Pajak (“Tax Base“) bertambah dari agraris menjadi konsumsi garam kemudian bertransformasi menjadi distribusi garam. Pemerintah kemudian kreatif dengan memperbolehkan warga untuk tidak ikut wajib militer dengan pembayaran sejumlah tertentu. Selain itu, kita bisa melihat bahwa peranan pajak sudah ada sejak zaman dahulu untuk menopang pemerintahan agar bisa mendukung kelangsungan hidup masyarakat. Sampai sekarang dan untuk masa yang akan datang, pajak akan semakin berperan dalam kelangsungan hidup bernegara.

Leave a comment

Filed under Belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s