Al Capone dan Pajak

Al Capone PajakSumber (https://en.wikipedia.org/wiki/Al_Capone)

 

the more you know about the past, the better prepared you are for the future.- Theodore Rosevelt —

 

Kata-kata mutiara diatas menggambarkan bahwa sejarah merupakan bagian penting dari peradaban manusia. Sejarah yang diukir di masa lalu dapat kita jadikan sebagai gambaran, renungan dan pelajaran agar terdapat peningkatan hidup dimasa datang. Goresan-goresan tinta dan pena mengabadikan sejarah tersebut untuk dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi selanjutnya.

Kali ini kita akan membahas tentang seseorang yang populer di dunia. Namanya sering disebut dalam berbagai literatur maupun menjadi icon dalam berbagai karya film serta buku. Dia adalah Al Capone.

Kisah tentang Al Capone sangat populer dalam berbagai film layar lebar misalnya The Untouchables (1987) maupun film berseri di layar kaca. Selain itu, sosok Al Capone juga muncul dalam film sebagai icon misalnya dalam film Night at the Museum: Battle of the Smithsonian (2009) dan berbagai film lainnya. Figur Al Capone juga muncul dalam berbagai tulisan misalnya dia dijadikan sebagai sosok antagonis dalam cerita serial Tintin dalam seri Tintin In America. Dalam bidang musik pun, sang Al Capone disebut-sebut dan juga menjadi judul lagu misalnya lagu Michael Jackson yang berjudul nama Al Capone. dan tentunya Al Capone juga terkait dengan pajak yang menjadi bahasan kita.

Begitu terkenalnya sang gangster yang menguasai kota Chicago pada era 1920-1930an sehingga sosoknya menjadi bahan rujukan bagi berbagai bidang. Tentunya Kriminologi akan mempelajari pola kriminal sang Al Capone dengan kekejamannya dalam berbagai bidang kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan dan cengkeraman kekuasannya terhadap aparat dalam sistem hukum dengan penyuapan yang dilakukannya pada berbagai level penegak hukum. Belum lagi ditambah dengan penguasannya atas anak buahnya yang berjumlah ribuan orang menjadikannya sosok yang menarik untuk dipelajari.

Namun, tahukah Anda, bahwa kasus Al Capone menarik dari sisi perpajakan karena delik pengelakan pajak bisa mengatasi buntunya penegakan hukum dari berbagai sisi yang bisa mendakwa Al Capone karena kelihaiannya dalam menutupi kejahatannya. Pidana seperti pembunuhan bisa ditutupi karena dia menggunakan anak buahnya yang selalu tutup mulut apabila tertangkap dan anak buahnya kadangkala menggunakan seragam aparat dalam melaksanakan kejahatannya. Penguasaan atas aparat penegak hukum kemudian menjadikannya tak tersentuh dan banyaknya sumbangan yang diberikannya kepada masyarakat, misalnya pemberian susu gratis menjadikannya sosok Robin Hood modern.

Sang maestro akhirnya mendapat lawan yang sepadan dengan munculnya sosok Elliot Ness. Elliot, seorang penyidik di Departemen Keuangan Amerika yang ditugaskan untuk melakukan investigasi atas Pengelakan Pajak dan Pelanggaran atas Prohibition (pelarangan pembuatan dan peredaran minuman keras dari tahun 1920 sampai 1933). Sosok Elliot dan timnya dikenal dengan sebutan “the Untouchables” terus mendesak Al Capone sampai akhirnya dapat ditemukan bukti atas kejahatannya.

Dalam suatu penggerebekan, ditemukan catatan bahwa terdapat pengiriman uang kepada “Al”. Kata “Al” tersebut kemudian ditelusuri dengan pencarian sampai dapat dibuktikan bahwa benar bahwa Al itu adalah Al Capone mengingat petunjuk yang mengarah kepada Al Capone hanya kata tersebut.

Capone dituntut atas pengelakan pajak untuk tahun 1925-1929. Dia juga dituntut tidak melaporkan SPT untuk tahun 1928 dan 1929. Jumlah tagihan pajak Al Capone adalah sebesar $215,080.48 atas pajak dari laba bisnis perjudian. Tuntutan ketiga adalah konspirasi atas pelanggaran hukum Prohibiton dari tahun 1922-1931. Akhirnya Al Capone diputus bersalah dan dihukum penjara selama 11 tahun.

Dunia perpajakan melihat kasus ini sebagai kasus yang fenomenal karena pelaku kejahatan dapat dipidana dengan pidana penjara. Walaupun belum terdapat pidana pencucian uang pada zaman tersebut, namun tidak lapor SPT dan tidak melaporkan penghasilan untuk dikenai pajak dapat dipidana dalam waktu yang lama. Hal tersebut menunjukkan bahwa pidana pajak merupakan suatu kejahatan yang serius karena tidak membayar pajak merupakan ancaman terhadap keberlangsungan negara.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejarahlah yang akan mencatat.

1 Comment

Filed under Belajar, Pajak Internasional

One response to “Al Capone dan Pajak

  1. Pingback: The Accountant (and Tax) | Ramzil Huda's Weblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s