Pajak dan Peranannya

Marin dan Yamato2

Pajak, apabila diibaratkan dalam suatu tubuh, merupakan darah bagi negara yang mendorong energi ke setiap sendi kehidupan masyarakat. Dengan suntikan energi tersebut, maka tubuh bisa bergerak, tubuh terasa segar dan bertenaga, pikiran dapat berjalan dengan tenang, dan hidup pun jadi nyaman.

Tanpa adanya energi, tubuh menjadi lesu tak bertenaga. Pikiran tak tenang dan melayang kemana-mana. Hidup lama-lama jadi menderita.

Kalau anda pernah menonton film kartun Marin dan Yamato, anda akan melihat secara gamblang bagaimana pentingnya peranan pajak bagi hidup kita sehari-hari. Dalam film ini diceritakan tentang 2 saudara yaitu Marin dan Yamoto yang telah menolong peri berbentuk burungĀ  yang sedang diganggu oleh seekor kucing. Peri tersebut mempunyai kekuatan untuk dapat mengabulkan 3 permintaan apapun. Marin, yang merasa bahwa karena PPN sangat memberatkan karena jatah jajannya jadi terkurangi, meminta agar semua jenis pajak di dunia dihapuskan.

Singkat cerita, permohonan tersebut pun dikabulkan. Marin dan Yamato terbangun dalam keadaan dunia tanpa pajak. Namun apa yang terjadi? Ternyata begitu mereka bangun mereka mendapati berita dari ayah mereka bahwa pemadam kebakaran bangkrut karena dalam proses pemadaman sebelumnya, pihak yg kebakaran tidak dapat membayar biaya pemadaman. Mereka juga mendapati bahwa ibu dan nenek mereka terpaksa harus bekerja dan menu sarapan mereka berubah menjadi lebih hemat.

Sadar akan efek akibat permintaan mereka, maka mereka pun bergegas ke taman kota untuk bertemu dengan burung sakti untuk meminta membatalkan permintaan. Sayangnya dalam perjalanan mereka mendapati bahwa sampah bertebaran dimana-mana dan menimbulkan bau busuk karena tidak ada pengambil sampah karena tidak ada yang membayar. Untuk melewati jalan dan jembatan pun harus membayar karena ketiadaan dana, negara menyerahkan jalan kepada swasta sehingga efeknya penggunaan jalan dan jembatan jadi berbayar. Lampu lalu lintas pun tidak berfungsi sehingga berakibat seringnya terjadi kecelakaan. Bahkan, orang yang kecelakaan pun tidak mau dibawa ke rumah sakit dengan ambulans karena takut untuk membayar biaya ambulans. Mereka ke kantor polisi dan mendapati bahwa terdapat bermacam-macam biaya untuk memanfaatkan layanan polisi.

Akhirnya, sampailah mereka ke taman kota dan bertemu dengan sang kucing sakti. Mereka menyesal bahwa permintaan pertama mereka adalah untuk menjadikan dunia tanpa pajak. Oleh karena itu, mereka meminta pada permintaan kedua untuk mengembalikan dunia yang ada pajaknya.

Banyak yang bisa kita petik dari film tersebut, salah satunya adalah peranan pajak itu sangat penting, dan seringkali tidak disadari oleh masyarakat. Masyarakat dapat menikmati ketentraman dan ketertiban, fasilitas umum dan sebagainya berasal dari uang para pembayar pajak. Bagaimana apabila ada masyarakat yang menikmati manfaat berupa jalan, sekolah, keamanan, pengelolaan sampah, dan sebagainya namun tidak membayar pajak? Jawabnya mereka itulah ‘free rider’ yang diterjemahkan dalam bahasa kita menjadi penumpang gelap.

Memang, Pajak dalam UU KUP didefinisikan sebagai ‘kontribusi wajib kepada negara… dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung…
Dari definisi tersebut, terdapat persepsi bahwa pembayar pajak tidak mendapatkan imbalan ‘secara langsung’. Frase tidak mendapatkan imbalan memberikan kesan bahwa tidak ada imbalan yang diterima kalau kita membayar pajak. Padahal pembacaan tersebut tidak berhenti karena masih ada frase ‘secara langsung’.

Apabila frase tersebut diubah menjadi ‘mendapat imbalan tidak secara langsung’, maka persepsi secara relatif akan menjadi berubah karena pembayar pajak ternyata mendapatkan imbalan walaupun tidak secara langsung. Memang hal tersebut hanyalah perbedaan tata letak kata yang membentuk kalimat, namun hal tersebut sangat besar perannya dalam membentuk persepsi.

Berkaca dari film Marin dan Yamato, masyarakat sepatutnya berterima kasih kepada para pembayar pajak karena merekalah negara ini bisa tegak dan tetap berjalan. Karena merekalah kita semua masih bersatu dalam republik tercinta ini. Karena merekalah sebenarnya pahlawan di dunia modern ini. Dan, ‘free rider‘ yang tidak membayar pajak itulah penjahat sejati karena menikmati fasilitas negara yang dibiayai dari pajak yang dibayar oleh pembayar pajak lainnya namun tak mau memberikan kontribusi.

Sebagai penutup, pajak sangat krusial peranannya dalam kehidupan kita. Abai dan acuh terhadapnya sama saja dengan menjadikan kita sebagai penumpang gelap.

Leave a comment

Filed under Belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s