Mencari Satria (Pajak)

Berangkat dari kisah yang diceritakan dengan apik oleh SH Mintardja dalam cerita silat Naga Sasra dan Sabuk Inten. Dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa seorang prajurit pilih tanding yang merupakan mantan pengawal raja Demak yang sudah bertahun-tahun mengabdi yang bernama Rangga Tohjaya yang dikenal dengan nama Mahesa Jenar meninggalkan kerajaan secara diam-diam untuk mencari ketenangan.

Mahesa Jenar, walaupun sudah tidak berada dalam lingkungan istana, namun kecintaannya kepada kerajaan Demak tidaklah luntur dan pudar. Ketika terdengar kekacauan akibat perebutan dua keris pusaka istana yaitu Nagasasra dan Sabuk Inten akibat kabar bahwa barang siapa yang memiliki keris tersebut akan dapat menjadi raja, Mahesa Jenar merasa kembali terpanggil untuk mengabdikan diri dengan cara lain yaitu dengan mencari kedua pusaka tersebut.

Dalam perjalanan mencari pusaka itu, Mahesa Jenar mengesampingkan tujuan awalnya mencari ketenangan karena merasa terpanggil akan ketenteraman dan kesejahteraan rakyat kerajaan Demak. Bahkan, kehidupan pribadinya yaitu kehidupan asmaranya pun ditunda karena tanggungjawab yang dirasakannya pada kerajaan.

Mahesa Jenar selain merasakan tugas mencari kedua pusaka juga harus dibebani amanah untuk mendidik putera temannya yang bernama Arya Salaka yang kemudian menjadi muridnya. Amanah terebut dilaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan dia dengan totalitas dalam membagi ilmunya dan pandangannya kepada muridnya. Memang benar tugas utamanya adalah saat ini yaitu menemukan dan mengembalikan kedua pusaka istana, namun dia juga tidak melupakan juga untuk mempersiapkan masa depan dengan menyiapkan muridnya yang akan menjadi penerus di masa datang.

Dalam perjalanan pencarian kedua pusaka, tak terhitung aral dan kesulitan yang menghadang yang pastinya berasal dari golongan hitam. Dikisahkan bagaimana keberaniannya melawan musuh yang secara hitung-hitungan tidak bisa dihadapinya karena kepandaian musuhnya setingkat gurunya patut. Kekalahannya dalam pertarungan, kemauannya dan rasa cinta kepada perguruannya menjadikannya lebih terpacu untuk meningkatkan ilmunya sehingga akhirnya dapat menandingi musuhnya.

Dalam menghadapi musuh-musuhnya, seringkali dia harus menggunakan otak daripada otot. Seringkali bersama-sama dengan teman seperjuangannya untuk menghadapi pasukan musuh dengan gelar pasukan yang teratur dan rapi. Musuh seringkali menggunakan tipu muslihat, namun berkat kegigihan dan kecemerlangan otaknya, hal tersebut dapat diatasi.

Berkaca dari kisah tersebut, banyak hal yang bisa diambil sebagai pelajaran. Pertama adalah tingginya nilai pengabdian kepada negara yang dipercayanya. Semangat nasionalisme dan pengabdian kepada pemimpin menjadikan dirinya merasa bertanggungjawab atas keadaan rakyat. Hal tersebut memacunya untuk memberikan kontribusi bagi tegaknya kerajaan/negara yang bahkan dengan mengesampingkan kehidupan pribadinya. Betapa banyak diantara kita yang lebih mementingkan kepentingan pribadi dan/atau golongan daripada kepentingan yang lebih luas.

Kedua, hidup itu bukan hanya untuk hari ini saja, persiapan untuk masa depan juga harus dilakukan. Mempersiapkan generasi yang lebih berkualitas, dalam hal ini penerus cita-cita perjuangan juga dilakukan dengan sungguh-sungguh. Persiapan tersebut dengan memberikan ilmu, tauladan dan motivasi bahwa generasi baru tersebut harus memiliki api perjuangan yang lebih menyala agar api semangat dari generasi sebelumnya tidak lebih padam.

Ketiga, Mahesa Jenar mencontohkan diri sebagai pribadi dan pemimpin yang diamanahi murid dan dalam beberapa kasus tertentu pasukan. Dia melakukan persiapan yang matang sebelum maju ke medan perang dengan melatih pasukannya secara teliti. Pasukan yang berbaris rapi dan kokoh serta mengikuti arahan pimpinan yang visioner akan mampu menaklukkan medan peperangan yang sesungguhnya.

Apa jadinya negara ketika banyak bermunculan satria-satria pajak dengan karakter seperti Mahesa Jenar, dengan militansi yang tinggi dan visi yang mumpuni. Tentunya kepentingan rakyat banyak akan lebih dapat dicapai sehingga makmur gemah ripah loh jinawi bukan hanya sekedar mimpi.

Jogja-Jakarta, 6 Desember 2015, suatu malam penuh mimpi…

Leave a comment

Filed under Belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s