Tarif Pajak Penghasilan Antarnegara, Sebuah Keterbandingan?

I. Pendahuluan

Beberapa waktu yang lalu, terdapat sebuah artikel tentang negara-negara yang mempunyai tarif Pajak Penghasilan (PPh) tertinggi di dunia. Dalam daftar tersebut ternyata terdapat negara-negara yang dianggap sebagian orang sebagai negara tax haven atau negara yang disinyalir menjadi perantara untuk menuju tax haven yaitu Irlandia dan Belanda. Hal ini menjadi menarik karena kedua negara tersebut di banyak artikel tentang tax avoidance menyatakan bahwa mereka merupakan tempat untuk penghindaran pajak yang populer, kalau tidak bisa dikatakan sebagai negara surga pajak. Hal ini bisa dilihat dengan populernya skema ‘Double Irish with a Dutch sandwich‘ yang digunakan oleh Apple dan banyak perusahaan multinasional lainnya. Yang menjadi pertanyaan dengan tarif tinggi negara-negara tersebut adalah apakah perbandingan yang dilakukan dengan tarif PPh di dalam negeri sudah sesuai?

Pembandingan yang dilakukan terhadap tarif PPh di Indonesia apabila hanya dilihat dari sisi tarif akan menjadi sangat prematur karena perbandingan tersebut dilakukan tanpa adanya kesebandingan sehingga hasil yang diharapkan tidak sesuai. Tulisan ini akan membahas secara ringkas mengenai jenis tarif yang tersedia dan argumentasi yang digunakan untuk perbandingan antar negara tersebut dengan tujuan agar kita bisa lebih memahami perbandingan yang sesuai. Tulisan ini dibatasi hanya pada bahasan tarif, dan tidak membahas mengenai pertimbangan lainnya dalam perbandingan.

 

II. Tarif dan Perbandingannya

II.1 Jenis Tarif

Terdapat bermacam jenis tarif apabila ditinjau dari bermacam sisi semisal tarif progresif, regresif, dan jenis-jenis tarif lainnya. Untuk kepentingan pembahasan kita, tarif yang dibahas ada 3 (tiga) jenis yaitu:

1. Tarif Statuter (Statutory Rate)

2. Tarif Efektif (Effective Rate)

3. Tarif Marjinal (Marginal Rate)

Tarif statuter adalah tarif yang berlaku sesuai dengan Undang-Undang (UU) yang berlaku di negara yang bersangkutan. Tarif tersebut dapat berupa tarif progresif yaitu nilai tarif yang meningkat setiap peningkatan penghasilan, bisa berupa tarif regresif yaitu nilai tarif yang menurun setiap penurunan tarif, dan bisa juga berupa tarif datar (flat) yang nilai tarifnya tetap berapapun jumlah penghasilan yang dikenakan sebagai dasar penentuan tarif. Sebagai contoh tarif progresif adalah tarif PPh Orang Pribadi (OP) yaitu sebesar:

5%   :      Rp.  0   – 50 juta

15% : >          50  – 250 juta

25% : >        250 – 500 juta

30% : >        500 juta.

Sementara itu, tarif regresif tidak dikenal dalam sistem perpajakan kita. Dilain hal, tarif flat untuk PPh Badan diperkenalkan mulai tahun 2009 dan sekarang berada pada tarif 25%. Tarif sebesar 25% tersebut tidak berubah berapapun jumlah penghasilan yang ada.

Walaupun tarif statuter merupakan tarif yang berlaku diatas kertas secara jelas, akan tetapi secara faktual persentase tarif yang nyata-nyata dikenakan terhadap penghasilan diukur dengan tarif efektif. Tarif efektif dipergunakan untuk menilai berapa besar sebenarnya nilai persentase pajak yang harus dibayar oleh Wajib Pajak. Sebagai contoh, tarif statuter sebesar 25% bukanlah jumlah tarif sebenarnya yang dikenakan terhadap usaha kecil karena ada beberapa pengecualian tertentu semisal untuk usaha kecil dan menengah pada pasal 31E UU PPh terdapat perbedaan penghitungan untuk peredaran usaha (omzet) sampai dengan 4,8 miliar, antara 4,8 − 50 miliar, dan diatas 50 miliar. Pengecualian tersebut menjadikan tarif efektif untuk WP Badan dengan omzet sampai dengan 4,8 miliar hanya sebesar 12,5 persen yang merupakan hasil dari pengurangan tarif 25% dengan 50% dari tarif penghasilan (25% – (50% x 25%)).⁠1

Tarif juga dapat berbeda tergantung kepada insentif pajak yang berlaku di suatu negara. Sebagai contoh, pengurangan tarif pajak untuk usaha strategis di daerah regional tertentu menjadikan tarif efektif jenis usaha tersebut menjadi lebih rendah dibandingkan dengan jenis usaha lain. Bahkan, jenis usaha yang sama tetapi berada di daerah yang berbeda bisa jadi tarif efektifnya akan berbeda karena perbedaan instentif yang didapat. Selain itu insentif berupa penyusutan dipercepat serta pengurangan atas biaya-biaya tertentu menjadikan tarif pajak efektif akan relatif berbeda. Karena tingkat relativitas perbedaan tarif efektif antara satu entitas usaha dengan entitas usaha lain sangat tinggi, maka penentuan tarif efektif secara umum relatif lebih sulit untuk dilakukan.

Tarif marjinal adalah tarif tertinggi yang dikenakan pada berbagai tingkatan penghasilan. Tarif marjinal tentunya akan berbeda terhadap masing-masing WP karena perbedaan penghasilan kena pajak mereka. Sebagai contoh, WP OP yang mempunyai penghasilan kena pajak sebesar 60 juta mempunyai tarif marjinal sebesar 10%, sementara yang mempunyai penghasilan kena pajak sebesar Rp. 300 juta akan mempunyai tarif marjinal sebesar 25%. Besarnya tarif marjinal ini berguna sebagai bahan pertimbangan pada suatu entitas bisnis apabila terdapat tambahan penghasilan karena akan berimplikasi kepada tambahan kewajiban pajak.

 

II.2 Tarif sebagai dasar pembandingan

Perbedaan berbagai macam tarif tersebut menjadikan perbandingan tarif statuter pajak suatu negara dengan negara lainnya bukanlah sebagai suatu dasar yang cukup baik untuk dijadikan sebagai landasan keputusan. Tarif statuter yang tinggi di suatu negara tidaklah menjamin bahwa negara tersebut merupakan negara dengan tarif pajak yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan tarif efektif yang berlaku akan menjadi berbeda-beda tergantung kepada jenis usaha, omzet, dan peraturan lainnya terkait dengan hukum pajak positif yang berlaku pada masing-masing negara yang bersangkutan. Oleh karena itu, pembandingan dengan menggunakan tarif statuter akan menghasilkan bias hasil pada entitas bisnis yang berbeda.

Akan tetapi, menentukan tarif efektif secara umum relatif sulit.⁠2 Hal tersebut terjadi karena perbandingan dengan penghitungan tarif efektif memerlukan riset yang ekstensif. Tambahan lagi, tarif efektif relatif tidak dikenal. Sementara itu tarif pajak statuter suatu negara banyak tersedia dan dapat diketahui dengan mudah. Dengan demikian, pembandingan secara umum dengan menggunakan dasar tarif statuter secara rasional dapat diterima. Hal-hal tersebut menjadikan tarif statuter sebagai pilihan yang lebih baik.

 

III. Simpulan

Tarif yang lebih tinggi ataupun tarif yang lebih rendah belum tentu mencerminkan tarif yang sebenarnya menjadi kewajiban pada entitas bisnis tertentu yang berbeda-beda. Tarif statuter, efektif dan marjinal merupakan jenis tarif yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan keputusan bisnis. Tarif statuter lebih sederhana dan mudah didapat, tetapi relatif tidak mencerminkan kesebandingan. Sementara itu tarif efektif  secara umum datanya sulit didapat, tetapi mencerminkan kesebandingan dan realita bisnis sebenarnya.



1 Walaupun tarif atas usaha kecil tertentu menjadi berubah flat dengan munculnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013, akan tetapi pengurangan atas tarif sesuai pasal 31E tersebut menjadi contoh betapa berbedanya antara tarif efektif dengan tarif statuter.


2 Menentukan tarif efektif secara individu lebih mudah apabila terdapat cukup data yang tersedia.

1 Comment

Filed under Belajar, Pajak Internasional

One response to “Tarif Pajak Penghasilan Antarnegara, Sebuah Keterbandingan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s