Perlakuan Natura dan/atau Kenikmatan dalam Perpajakan

I. Pendahuluan

Natura dan kenikmatan merupakan dua istilah berbeda yang pemakaiannya dalam konteks perpajakan seringkali dianggap sama. Perbedaan kedua istilah tersebut sudah dibahas pada tulisan sebelumnya.

Dalam konteks perpajakan, istilah natura dan/atau kenikmatan berhubungan dengan perlakuan apabila imbalan tersebut diberikan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa karena akan berkaitan dengan implikasi objek pajak bagi penerima, dan biaya bagi pemberi. Tulisan ini akan membahas mengenai perlakuan perpajakan atas pemberian imbalan tersebut.

II. Pembahasan

II.1 Implikasi Bagi Penerima

Bagi penerima natura dan/atau kenikmatan, imbalan tersebut jelas merupakan penghasilan yang merupakan tambahan kemampuan ekonomis sesuai pasal 4(1) UU PPh. Akan tetapi, pasal 4(3) huruf d UU PPh mengecualikan penghasilan tersebut dari objek pajak penghasilan. Dengan demikian, walaupun imbalan tersebut merupakan penghasilan, akan tetapi bukan merupakan objek pajak.

Pengecualian bukan objek pajak sesuai pasal 4(3) huruf d hanya terjadi apabila imbalan tersebut diberikan oleh Wajib Pajak dan pemerintah. Sementara, natura dan/atau kenikmatan tersebut akan menjadi objek pajak bagi penerima apabila diberikan oleh:

1. bukan Wajib Pajak
2. WP yang dikenakan Pajak secara final
3. WP yang menggunakan norma penghitungan khusus (deemed profit) sesuai pasal 15.

II.2 Implikasi Bagi Pemberi

Karena pemberian imbalan ini merupakan biaya yang telah dikeluarkan oleh pemberi kerja, maka isu yang timbul adalah apakah pengeluaran tersebut boleh dibiayakan menurut ketentuan perpajakan.

Berdasarkan pasal 6 ayat 1 UU PPh, pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan bisa dibiayakan untuk mengurangi penghasilan bruto. Pemberian imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa  selama berhubungan dengan mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan secara umum merupakan pengeluaran yang berhubungan dengan usaha yang tentunya boleh dibiayakan.

Akan tetapi, secara khusus Pasal 9 ayat 1 huruf e UU PPh juga mengatur bahwa pengeluaran dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan tersebut tidak boleh dibiayakan. Pasal 9 ayat 1 ini secara spesifik membatasi pengeluaran atas biaya dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan sehingga pasal 6 ayat 1 yang bersifat umum tidak berlaku dalam hal ini.

Namun, pasal ini juga mengatur bahwa terdapat pengecualian atas pengeluaran yang tidak boleh dibiayakan tersebut yaitu atas:

1. penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai
2. di daerah tertentu
3. yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan

Pengecualian atas pasal 9(1)(e) ini menunjukkan bahwa atas pengeluaran yang ada di daftar tersebut boleh dibiayakan. Hal tersebut diatur lebih detil pada Peraturan Menteri Keuangan nomor 83/PMK.03/2009.

II.3 Mekanisme

II.3.1 Landasan secara umum

Apabila dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi pemberi dan penerima, imbalan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan ini saling berkaitan sehingga bisa dikatakan bahwa pasal 4(3)(d) berhubungan dengan pasal 9(1)(e).

Dasar atas argumen ini adalah bahwa imbalan itu merupakan pengeluaran bagi pemberi dan penghasilan bagi penerima. Terdapat 4 (empat) situasi yang akan dibahas. Pertama, tanpa adanya pasal 4(3)(d) dan pasal 9(1)(e), maka imbalan tersebut akan merupakan penghasilan yang dikenai pajak dan merupakan biaya bagi pemberi sehingga akan masuk kepada istilah yang lazim disebut Taxable-Deductible. Kedua, kalau hanya ada pasal 4(3)(d) saja tanpa 9(1)(e), maka akan terjadi Non Taxable-Deductible. Ketiga, kalau hanya ada pasal 9(1)(e) saja tanpa 4(3)(d), maka akan terjadi situasi Taxable-Non Deductible. Terakhir, pada praktiknya yang terjadi atas kedua pasal ini adalah terjadinya situasi Non Taxable – Non Deductible.

Situasi Taxable-Deductible berarti bahwa penghasilan dikenakan pajak pada pihak penerima akan tetapi di sisi lain si pemberi diperbolehkan untuk mengurangkan biaya atas pengeluaran tersebut untuk kepentingan penghitungan pajak bagi pihak pemberi. Sehingga disini pajak dikenakan pada si penerima. Sebagai contoh adalah pemberian gaji karyawan dalam bentuk kas yang dikenakan PPh atas karyawan (dipotong 21 dan kemudian dihitung ulang di SPT Tahunan), sementara pemberi kerja mengurangkan biaya gaji dalam laporan keuangannya dan mengurangi penghasilannya.

Situasi Non Taxable-Deductible berarti bahwa penghasilan tidak dikenai pajak di sisi penerima tetapi boleh dibiayakan pada sisi si pemberi. Implikasi dari situasi ini adalah tidak adanya pajak yang dikenakan atas penghasilan tersebut, baik dari sisi penerima maupun dari sisi si pemberi. Sebagai contoh adalah pemberian zakat dan sumbangan keagamaan wajib yang bukan merupakan penghasilan bagi penerima dan boleh dibiayakan bagi si pemberi.

Situasi Taxable-Non Deductible berarti bahwa penghasilan dikenai pajak pada sisi penerima dan tidak boleh dibiayakan dari sisi pemberi. Dari sisi pemberi, dengan tidak bisa dibiayakan, maka pemberi juga akan menanggung pajak karena adanya koreksi positif atas biaya tersebut. Sehingga, secara aliran kas, si pemberi kehilangan biaya atas pengeluaran dan harus menambah jumlah pajak. Situasi ini akan menimbulkan terjadinya pajak berganda.

Situasi Non Taxable – Non Deductible adalah kebalikan dari situasi 1 Taxable – Deductible dimana disini beban pajak dialihkan dari sisi si penerima menjadi tanggungan si pemberi. Hal ini terjadi karena atas penghasilan si penerima tidak dikenai pajak, sementara si pemberi tidak boleh mengurangkan biaya tersebut sebagai pengurang penghasilan. Dengan tidak mengurangkan sebagai biaya, maka pemberi penghasilan menanggung biaya sejumlah natura dan/atau kenikmatan yang diberikan dan tambahan pajak atas tidak boleh dibiayakannya pengeluaran tersebut.

II.3.2 Landasan atas Pengecualian

II.3.2.1 Pengecualian Pasal 4(3)(d)  

Pengecualian pasal 4(3)(d) bahwa atas penerimaan natura dan/atau kenikmatan yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, WP yang dikenakan PPh Final, dan WP deemed profit merupakan objek pajak. Dalam hal ini, situasinya menjadi Taxable – Non Applicable. Dari sisi penerima, karena merupakan objek pajak, maka penghasilan tersebut dikenai pajak. Sementara itu, dari sisi pemberi, karena bukan wajib pajak, WP yg dikenai PPh Final, dan WP deemed profit tidak ada mekanisme membiayakan, maka tidak bisa disebut istilah Non Deductible. Argumen yang ada mungkin adalah bahwa pada WP yg dikenai PPh Final dan Deemed profit jumlah pajak yg dibayar si pemberi sudah mencerminkan besarnya pengurangan-pengurangan yang diperbolehkan.

II.3.2.2 Pengecualian Pasal 9(1)(e)

Pengecualian pada pasal 9(1)(e) bahwa atas penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai diatur bahwa yang boleh dibiayakan adalah yang disediakan pemberi kerja di tempat kerja, dan kupon makanan/minuman bagi yang tidak bisa memanfaatkan di tempat kerja.1 Argumen yang mengatakan bahwa pengeluaran ini merupakan pengeluaran yang lazim dalam usaha tentunya dapat diterima. Sementara pengecualian bagi di daerah tertentu bisa dilihat sebagai insentif untuk memajukan daerah yang mempunyai potensi untuk dikembangkan akan tetapi belum terdapat saranan dan prasarana yang memadai, sehingga pemberi natura dan/atau kenikmatan harus mengeluarkan biaya untuk sarana dan prasarana tersebut.2 Sementara pengecualian untuk pengeluaran yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang meliputi pakaian dan peralatan untuk keselamatan kerja, pakaian seragam petugas keamanan (satpam), sarana antar jemput Pegawai, serta penginapan untuk awak kapal, dan yang sejenisnya,3 bisa dilihat merupakan pengeluaran yang lazim dalam menjalankan usaha.

III. Simpulan

Konsep Taxability – Deductibility mempengaruhi perlakuan atas pemberian natura dan/atau kenikmatan dari sisi pemberi dan sisi penerima karena akan berimplikasi kepada tax incidence atas penghasilan tersebut. Pengecualian atas konsep tersebut lebih disebabkan karena tujuan pajak yang bersifat mengatur.



1 PMK 83/PMK.03/2009 Pasal 3(2)(a)-(b).
2 PMK 83/PMK.03/2009 Pasal 4(2).
3 PMK 83/PMK.03/2009 Pasal 5.

Leave a comment

Filed under PPh, PPh PotPut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s