Controlled Foreign Corporation (CFC), Sebuah Perbandingan Singkat

Pendahuluan

Salah satu cara penghindaran pajak yang dilakukan adalah dengan cara ‘deferral’ atau menahan laba pada perusahaan terkendali, lazimnya dikenal dengan istilah ‘controlled foreign corporation (CFC)’, di luar jurisdiksi pemajakan yang mempunyai rezim dengan tarif pajak yang lebih rendah dari tarif pajak domestik ataupun negara dengan tarif pajak 0% ataupun yang dikenal dengan istilah ‘tax haven’. Dengan menahan laba pada perusahaan terkendali tersebut, maka Wajib Pajak (WP) menghindari pajak domestik atas distribusi laba tersebut karena dividen tidak dibayarkan kepada induk perusahaan di dalam negeri. Hal tersebut akhirnya diperparah lagi dengan adanya pemindahan penghasilan yang bersumber dari negara lainnya ke negara tempat perusahaan terkendali tersebut sehingga terjadi erosi atas penghasilan pemilik di dalam negeri dan pada akhirnya berimplikasi kepada jumlah pajak yang dibayar.

Sebagai suatu usaha untuk menangkal CFC, maka pada tahun 1962 Amerika Serikat (AS) pada masa pemerintahan Kennedy memperkenalkan aturan yang bertujuan untuk menarik laba perusahaan terkendali tersebut ke dalam negeri. Aturan ini, yang merupakan Specific Anti-Avoidance Rules (SAAR), akhirnya diadopsi banyak negara untuk menanggulangi masalah CFC atas penerimaan pajak domestik mereka.

Tulisan ini akan membahas secara singkat mengenai ketentuan tentang CFC di Indonesia dan sebagai perbandingan akan dibahas tentang ketentuan CFC di Amerika Serikat dan di China.

CFC di Indonesia

Di Indonesia, CFC diperkenalkan pada Undang – Undang (UU) Nomor 10 Tahun 1994 yang merupakan perubahan atas UU PPh 1984. Ketentuan ini masih tetap berlaku sampai pada saat ini UU Nomor 36 Tahun 2008 terakhir diubah. Pada pasal 18 ayat 2⁠1 disebutkan sebagai berikut:

“Menteri Keuangan berwenang menetapkan saat diperolehnya deviden oleh Wajib Pajak dalam negeri atas penyertaan modal pada badan usaha di luar negeri selain badan usaha yang menjual sahamnya di bursa efek, dengan ketentuan sebagai berikut :

1. besarnya penyertaan modal Wajib Pajak dalam negeri tersebut sekurang-kurangnya 50 % (lima puluh persen) dari jumlah saham yang disetor; atau

2. secara bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya memiliki penyertaan modal 50 % (lima puluh persen) atau lebih dari jumlah saham yang disetor.”

Kewenangan Menteri Keuangan yang dimaksud pasal tersebut di terapkan dengan adanya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 256/PMK.03/2008. Tata cara pelaporan penerimaan dividen luar negeri, tata cara perhitungan pajak dan tata cara pengkreditan yang dimaksud dalam PMK tersebut diatur lebih lanjut dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak (PER) Nomor 59/PJ/2010.

Secara garis besar, aturan tersebut mengatur bahwa badan usaha di luar negeri yang tidak terdaftar di bursa efek, yang modalnya minimal 50% dimiliki oleh WPDN baik sendiri maupun bersama dengan  WPDN lain, akan dikategorikan sebagai CFC. Dengan pengkategorian tersebut, maka Menteri Keuangan berwenang untuk menentukan saat diperolehnya dividen yang akan berakibat kepada besarnya penghasilan pemegang saham sebagai WPDN.

Saat diperolehnya dividen tersebut adalah bulan keempat⁠2 setelah berakhirnya kewajiban penyampaian SPT Tahunan PPh CFC di negaranya atau bulan ketujuh⁠3 apabila tidak ada kewajiban tersebut. Jumlah dividen yang dianggap diterima atas laba setelah pajak CFC adalah sebanding dengan besarnya penyertaan WPDN tersebut,⁠4 kecuali CFC tersebut sudah membagikannya sebelum batas waktu.⁠5 Jumlah laba setelah pajak tersebut adalah laba sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku  di negara yang bersangkutan.⁠6 Apabila jumlah dividen yang dibagikan melebihi bagian laba atas besarnya penyertaan tersebut, maka kelebihan tersebut wajib dilaporkan dalam SPT,⁠7 termasuk juga apabila terdapat pembagian dividen selain dividen tersebut.⁠8 Pembagian dividen yang melebihi bagian laba tersebut  termasuk pembagian dividen dengan nama dan dalam bentuk apapun yang pada hakikatnya merupakan pembagian dividen yg tidak termasuk dalam perhitungan laba setelah pajak.⁠9

Pajak atas dividen yg telah dibayar/dipotong di LN dapat dikreditkan sesuai ketentuan Pasal 24 UU PPh⁠10 dan dilakukan pada tahun dibayar/dipotong.⁠11

CFC di Amerika Serikat

Pengaturan atas penundaan penghasilan di LN di Amerika diatur dengan ketentuan CFC untuk kasus pengendalian atas perusahaan lain dan Passive Foreign Investment Company (PFICs) untuk penundaan distribusi penghasilan pada penghasilan passive.

CFC di Amerika diatur dalam Subpart F Internal Revenue Code yang merupakan ketentuan yang sangat kompleks. Secara konseptual, penarikan atas dividen atas perusahaan terkendali adalah atas penghasilan yang merupakan penghasilan jenis penghasilan yang mudah direkayasa untuk ditunda di CFC dan yang ‘tainted’. Jenis penghasilan tersebut adalah:⁠12

1. Insurance Income⁠13

2. The Foreign Base Company Income⁠14
     a. The Foreign Personal holding Company Income
     b. The Foreign Base Company Sales Income
     c. The foreign base company services income
     d. The Foreign base company oil related income

3. Income from countries subject to international boycotts⁠15

4. Illegal bribes, kickbacks, and other similar payments⁠16

5. Income from countries where the United States has severed diplomatic relations⁠17

Perusahaan di LN akan dikategorikan sebagai CFC apabila lebih dari 50% hak suara atau kepemilikan saham dimilik oleh pemegang saham Amerika.⁠18 Pemegang saham tersebut didefinisikan sebagai orang/badan yang memiliki paling rendah 10% atas hak suara semua jenis saham.⁠19

PFIC lebih ditargetkan untuk orang/badan yang memiliki kepemilikan dibawah 10% dan atas penghasilan pasif. Untuk itu, terdapat dua jenis pengujian yang dilakukan yaitu uji penghasilan dan uji aset yang mengarah kepada apakah penghasilan atau aset tersebut berhubungan dengan penghasilan pasif atau tidak.

CFC di China

CFC di China dianggap muncul apabila badan dan atau perseorangan mengendalikan, baik sendiri maupun bersama-sama, perusahaan yang didirikan di negara yang tarif pajak efektifnya lebih rendah daripada tarif pajak dalam negeri.⁠20 Dianggap pengendalian apabila lebih dari 50% jumlah saham dikuasai oleh badan dan atau perseorangan yang memiliki 10% atau lebih dari hak suara atas saham,⁠21 serta bisa juga persentase tersebut tidak terpenuhi, akan tetapi terdapat pengendalian substantif atas kepemilikan saham, keuangan, bisnis, penjualan dan pembelian, dan sebagainya.⁠22

Laba yang tidak dibagikan tidak akan dianggap didistribusi dalam tahun yang bersangkutan apabila CFC didirikan di negara yang tarif pajaknya rendah yang ditentukan oleh pemerintah, penghasilan utama CFC dari operasi bisnis yang aktif, dan jumlah laba CFC tidak lebih dari 5 juta Renmibi.⁠23

Simpulan

Penundaan atas penghasilan melalui perusahaan terkendali di negara yang tarif pajaknya lebih rendah dari DN diatasi dengan adanya aturan tentang CFC. Terdapat perbedaan yang timbul atas pengaturan CFC yang kemungkinan bersumber dari kompleksitas bisnis/investasi WPDN yang memperoleh penghasilan dari LN.



1 UU No. 36 Tahun 2008, Ps. 18(2).
2 PMK 256/PMK.03/2008, Ps. 1(a).
3 PMK 256/PMK.03/2008, Ps. 1(b).
4 PMK 256/PMK.03/2008, Ps. 3(1).
5 PMK 256/PMK.03/2008, Ps. 3(2).
6 PER-59/PJ/2010, Ps. 3(3).
7 PMK 256/PMK.03/2008, Ps. 4(1).
8 PMK 256/PMK.03/2008, Ps. 4(2).
9 PER-59/PJ/2010, Ps. 4(3).
10 PMK 256/PMK.03/2008, Ps. 5(1).
11 PMK 256/PMK.03/2008, Ps. 5(2).
12 IRC § 952.
13 IRC § 953.
14 IRC § 954.
15 IRC § 999.
16 IRC § 162.
17 IRC § 901(j).
18 IRC § 957(a)(1)-(2).
19 IRC § 951(b).
20 [Enterprise Income Tax Law] (People’s Republic of China) National People’s Congress, 16 March 2007, art. 45.
21 [Enterprise Income Tax Law Implementing Rules] (People’s Republic of China) State Council Decree No 512, 06 December 2007, art. 117(1).
22 [Enterprise Income Tax Law Implementing Rules] (People’s Republic of China) State Council Decree No 512, 06 December 2007, art. 117(2).
23 Guo Shui Fa [2009] No. 2, art 84.

1 Comment

Filed under Pajak Internasional

One response to “Controlled Foreign Corporation (CFC), Sebuah Perbandingan Singkat

  1. raharja

    mantap, kawan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s