Perpustakaan kami

Pendahuluan

Setelah tulisan saya Perpustakaan, sekarang dan nanti yang mengulas sekilas perpustakaan di kota Melbourne, Australia berselang 4 tahun silam, kali ini saya berkunjung ke perpustakaan di Yogya yang saya sebutkan dalam pengantar tulisan tersebut yang sekarang sudah selesai. Perpustakaan ini berada di dekat Jogja Expo Center.

Bahasan

Begitu pertama kali melihat gedungnya dari jauh, saya sangat terkesan karena gedung yang kelihatan megah dengan halaman rumput yang rapi dan terawat. Bayangan saya bahwa koleksi dalam perpustakaan ini akan sangat banyak dan menggoda untuk dibaca dan didalami. Ketika masuk menggunakan mobil, sayangnya terdapat kesan agak sulit untuk masuk karena jalan untuk masuk mobil sangat sempit (terutama ketika berbelok) dengan memutar halaman dengan jalan yang sangat pas untuk satu mobil. Bagi saya, akses masuk yang mudah akan mendorong pengunjung yang menggunakan mobil untuk datang lebih sering.

IMG_8726

Perpustakaan ini memberikan fasilitas locker yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk menyimpan tasnya karena tas tidak diperbolehkan untuk dibawa kedalam ruang koleksi. Hal tersebut dapat dipahami untuk keamanan koleksi buku. Sayangnya, ketika banyak pengunjung yang datang, locker habis terpakai, dan pengunjung terkadang terpaksa menunggu pengunjung lain yang sudah selesai dan mengembalikan kunci locker karena meninggalkan tas diluar ruang koleksi tanpa pengawasan akan sangat berisiko.

Gedung perpustakaan ini memiliki fasilitas yang relatif lengkap seperti ruang koleksi umum, ruang referensi, buku Braille dalam ruangan tersendiri, ruangan untuk anak, musik, ruangan film 4D, dan sebagainya. Fasilitas tersebut sangat menarik mengingat kebutuhan pengunjung yang berbeda-beda dapat difasilitasi dalam satu tempat.

Karena saya hanya menggunakan ruang koleksi, maka kesan saya terhadap ruang koleksi adalah koleksi tersebut cukup lengkap. Menurut pendapat saya, akan lebih baik lagi apabila ruangan koleksi lebih luas sehingga dapat menampung koleksi yang lebih banyak. Bagi pelajar dan mahasiswa, banyak referensi akan semakin menambah insight terhadap suatu masalah yang sedang dikaji. Apabila perpustakaan menyediakan ragam referensi yang banyak, pengunjung akan mendapat motivasi lebih untuk mendatangi perpustakaan tersebut.

Ruangan koleksi perpustakaan menggunakan karpet, sehingga pengunjung akan sangat nyaman untuk membaca di lantai. Selain itu disediakan juga meja, kursi, sofa dan bean bag yang semakin menambah kenyamanan. Yang saya perhatikan bahwa banyak pelajar yang datang menunjukkan fasilitas tersebut sukses mendorong banyaknya pengunjung.

Bagi saya, agar bisa lama berada di dalam perpustakaan, dibutuhkan air minum misalnya air putih atau kopi. Sayangnya anda tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman kedalam ruangan yang menurut saya logis karena akan sangat mudah mengotori karpet, dan mungkin juga koleksi buku. Namun, menurut pendapat saya, tanpa bolehnya minuman dibawa kedalam, pengunjung hanya akan bertahan di perpustakaan beberapa jam saja.

Perpustakaan di Melbourne

Mengulang kembali tulisan saya 4 tahun sebelumnya di blog ini, setingkat kecamatan mempunyai perpustakaan dengan fasilitas yang lumayan lengkap dan tersedia peminjaman VCD/DVD. Untuk perpustakaan kampus, apabila suatu buku tidak tersedia, maka dapat dipinjam dari kampus lain (bahkan beda negara) melalui permintaan peminjaman di situs perpustakaan kampus sendiri, dan mengambilnya bukunyapun cukup di perpustakaan kampus kita sendiri.

Pengunjung boleh membawa tas kedalam ruangan perpustakaan karena pengunjung tidak hanya ingin membaca koleksi perpustakaan saja, namun pengunjung juga banyak yang membawa buku milik sendiri. Dengan adanya beberapa buku dalam satu meja untuk dapat dibaca dan diperbandingkan, maka pemahaman atas suatu topik akan menjadi lebih mudah, dan tentunya ilmu akan berkembang.

Sangat lazim bagi pengunjung untuk membawa kopi atau air putih ke dalam ruangan perpustakaan. Melakukan riset tidak hanya cukup 1 (satu) jam atau 2 (dua) jam. Terkadang berminggu-minggu dan dilakukan seharian penuh. Tanpa adanya suatu minuman sembari membaca/riset, praktis konsentrasi akan berkurang dan bolak-balik keluar ruangan untuk minum dan masuk lagi, hanya akan mengganggu konsentrasi.  

Simpulan

Peningkatan kualitas bangsa ditentukan dari pendidikan yang tentunya salah satu faktor penting adalah pengetahuan yang sebagian besar didapat dari hasil gagasan, olah rasa dan penelitian yang banyak dituangkan dalam buku. Fasilitas yang cukup akan mendorong orang untuk gemar membaca sehingga bukan hanya baik bagi mereka, tapi juga bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Disclaimer: Hal tersebut diatas adalah pendapat pribadi saya yang boleh jadi belum tentu sama dengan pendapat anda.

 

Leave a comment

Filed under Belajar

Ilmu Silat dan Ilmu Pajak

hinakelana

“…Lenghou Tiong dan lain-lain sama heran, pikir mereka, “Ilmu silat Hoa-san-pay tetap ilmu silat Hoa-san-pay, mengapa bisa terbagi menjadi dua golongan antara yang baik dan yang jahat? Mengapa selama ini belum pernah terdengar Suhu menceritakan soal ini?”

Leng-sian yang usilan segera bertanya, “Ayah, yang kita latih adalah ilmu silat yang baik dan asli, bukan?”

“…Sudah tentu,” sahut Put-kun. “Tapi golongan yang sesat itu justru mengaku pihak mereka adalah golongan yang baik dan tulen, pihak kita yang dituduh golongan yang sesat. Namun lama-kelamaan antara yang baik dan jahat dengan sendirinya tersisihkan, golongan yang sesat itu akhirnya buyar lenyap dengan sendirinya. Selama 40 tahun ini golongan mereka sudah tidak terdapat lagi di dunia ini.”

“…Titik pokok ilmu silat Hoa-san-pay terletak pada hal latihan Lwekang, bila Lwekang sudah jadi, maka lancarlah dalam cabang-cabang ilmu silat lainnya dan ini adalah cara tulen dari perguruan kita. Tapi di antara tokoh-tokoh angkatan tua perguruan kita dahulu ada suatu golongan yang menganggap letak inti ilmu silat kita berada pada ilmu pedang, jika ilmu pedang sudah sempurna, biarpun Lwekang kurang mendalam juga cukup untuk mengalahkan musuh. Dan di sinilah perbedaan paham antara golongan yang benar dan yang sesat.

Paragraf diatas adalah penggalan dari cerita silat karya Jin Yong yang berjudul Hina Kelana (Siaw Go Kang Ouw) dimana Lenghou Tiong akhirnya dipersalahkan oleh gurunya Gak Put-Kun karena mempelajari ilmu pedang yang dianggap sekte sesat walaupun sebenarnya sekte pedang juga berasal dari aliran perguruannya.

Dari penggalan dialog diatas, kita sadar bahwa terdapat 2 (dua) jenis ilmu yaitu Lwekang (tenaga dalam) dan ilmu pedang (senjata). Sebenarnya diluar keahlian tersebut terdapat banyak ilmu lainnya yang tak kalah mumpuni seperti ilmu gwakang (tenaga kasar), ginkang (meringankan tubuh), dan sihir. Namun memang secara umum keahlian dalam lwekang maupun senjata memang lebih dominan dalam menentukan keunggulan seorang pendekar.

Apabila kita melihat lebih dalam lagi, ilmu lwekang sendiri berbeda-beda jenisnya. Ada yang bersifat dingin atau panas (im-yang) dan juga terdapat perbedaan efek yang ditimbulkannya seperti terbakar, luka dalam serius, racun, dsb. Sementara itu, untuk ilmu senjata, terdapat banyak senjata yang dapat digunakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Walaupun secara umum pedang digunakan, namun terdapat juga perguruan lain yang menggunakan golok, cambuk, tombak, dan berbagai senjata lainnya.

Seorang yang menguasai ilmu pedang belum tentu jago menggunakan golok karena terdapat perbedaan karakter senjata. Pedang lebih ringan, tajam pada dua sisi, dan fleksibel. Sementara golok lebih berat dan kuat sehingga membutuhkan tenaga yang lebih besar untuk memainkannya.

Bagaimana dengan ilmu pajak?

Kita mungkin paham bahwa ibunya ilmu pengetahuan memang adalah filsafat. Dalam dunia kangouw, tak dipungkiri lagi filsafat tersebut juga sangat berpengaruh terhadap gaya bersilat. Dalam ilmu pajak, konsep filsafat juga tak luput mempengaruhi sampai pada   konsep keadilan, kemakmuran, dsb.

Ilmu pajak juga bisa bermacam-macam. Seseorang yang baru belajar pajak akan belajar dasar-dasar perpajakan (kuda-kuda dalam istilah dunia persilatan) yang tentunya dipengaruhi oleh ilmu ekonomi, hukum, politik, dsb.

Selanjutnya, naik pada tahapan selanjutnya adalah ilmu yang lebih spesifik seperti PPh, PPN, KUP, BM, dan PBB. Dalam tataran ini, seorang yang menguasai PPh secara mendalam akan kurang mendalam penguasaannya terhadap ilmu lainnya seperti PPN, KUP, dsb.

Dalam tahapan berikutnya, penguasaan terhadap PPh pun menjadi terspesialiasi, misalnya Pajak Internasional, PPh Pot Put, PPh Badan dan semacamnya. Hal ini sama seperti seorang spesialis ahli pedang yang kurang menguasai pemakaian lembing.

Adakah yang bisa menguasai semua?

Konon, pendekar yang menguasai lwekang yang sempurna tidak membutuhkan senjata lagi karena lengan baju pun bisa menjadi senjata yang tajam seperti sebilah pedang. Hal tersebut kita bisa lihat bagaimana kehebatan Yoko dalam Kembalinya Pendekar Rajawali/Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar (Sin Tiaw Hiap Lu).

Konon, Lenghou Tiong pun dalam cerita diatas (Hina Kelana) akhirnya menjadi pendekar pilih tanding dan mampu mengalahkan ahli lwekang dengan keahlian pedangnya dengan hanya berkonsentrasi pada kelemahan gerakan lawan.

Apakah anda bisa seperti Yoko ataupun Lenghou Tiong dalam ilmu pajak?

Jawabannya tentu saja bisa asalkan Anda mau berusaha.

Wallahu a’lam….

Leave a comment

Filed under Belajar

Marco Polo dan Pajak

marco-polo

Saya menduga bahwa kita semua sudah pernah mendengar kisah tentang Marco Polo sang penjelajah. Kehebatan Marco Polo, sang pedagang yang berasal dari Venezia yang kemudian menjadi pembantu Kubilai Khan dan menjelajah ke berbagai belahan dunia termasuk sampai ke Aceh, Sumatera.

Kepopuleran Marco Polo berasal dari buku kisah perjalanan yang ditulisnya dengan judul il Milione / The Travels of Marco Polo. Dalam buku tersebut dikisahkan bagaimana penjelajahan yang dilakukannya.

Kali ini, kita tidak akan membahas mengenai petualangannya, namun kita akan membahas keterkaitan kisahnya dengan pajak. Beberapa tulisan menganggap bahwa Marco Polo pernah menjabat sebagai pejabat pajak selama 3 tahun sebagai perwakilan Kubilai Khan di Yanzhou, Tiongkok.

Terkait dengan pajak, dalam buku Marcopolo Perjalanan Sang Petualang dan Saudagar Pemberani ke Daratan Tiongkok digambarkan dengan apik sebagai berikut:

(Sumber: Marcopolo Perjalanan Sang Petualang dan Saudagar Pemberani ke Daratan Tiongkok, Esmeralda Lesmana, Gramedia Pustaka Utama, 2010)

Apabila kita perhatikan, maka dapat dilihat bahwa pajak yang dibayarkan oleh rakyat, pada akhirnya akan dikembalikan lagi kepada rakyat yang membutuhkan. Hal tersebut sesuai dengan teori redistribusi pendapatan.

Apabila kita dalami lebih lanjut, dalam buku The Travels of Marco Polo the Venetian hal 212-213 disebutkan sebagai berikut:

…Now we will leave this subject, and I will tell you of a great act of benevolence which the grand khan performs twice a-year…

THE grand khan sends every year his commissioners to ascertain whether any of his subjects have suffered in their crops of corn from unfavourable weather, from storms of wind or violent rains, or by locusts, worms, or any other plague; and in such cases he not only refrains from exacting the usual tribute of that year, but furnishes them from his granaries with so much corn as is necessary for their subsistence, as well as for sowing their land. With this view, in times of great plenty, he causes large purchases to be made of such kinds of grain as are most serviceable to them, which is stored in granaries provided for the purpose in the several provinces, and managed with such care as to ensure its keeping for three or four years without damage.(dengan tambahan penekanan)

Berdasarkan tulisan tersebut, dapat dipastikan bahwa memang Kubilai Khan waktu itu menyalurkan kembali bahan pangan kepada rakyat yang membutuhkan. Darimana bahan pangan tersebut? tentunya dari tribute/upeti/pajak yang didapatkan dari masyarakat juga. Dengan demikian, dalam keadaan pangan berlimpah masyarakat tidak kekurangan pangan, dan dalam keadaan paceklik, masyarakat dibantu oleh pemerintah.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa pajak sudah dikenal di berbagai periode di berbagai tempat sejak zaman dahulu kala dari periode sebelum masehi sehingga sistem pemajakan pada periode pengabdian pada Kubilai Khan di abad 13 bukanlah sesuatu yang baru. Namun hal tersebut menjadi menarik mengingat pada penaklukan dunia oleh Jenghis Khan dan Kubilai Khan membutuhkan dana yang besar yang tentunya dibutuhkan pajak (atau mungkin didanai dari rampasan perang).

Leave a comment

Filed under Belajar

Dunia Kang-Ouw (dan Pajak)

Apabila anda penggemar cerita silat, tentunya Anda akan mengenal Chin Yung/Jin Yong dengan karya fenomenalnya yang dahulu pernah ditayangkan di TV dengan Andi Lau yang berperan sebagai Yo Ko (wah jadi ketahuan umurnya :-)). Anda juga mungkin familiar dengan Kho Ping Hoo dengan banyak karyanya yang sangat menarik.
Lalu, apa hubungannya cerita silat tersebut dengan pajak?

Dunia kang-ouw (persilatan) yang digambarkan pada buku-buku tersebut tidak berbeda dengan dunia perpajakan. Akan kita temukan dimana banyak orang yang mengadu ilmu, entah untuk unjuk kemampuan, untuk tujuan komersial, atau memang tugasnya seperti itu.

Apabila anda pernah membaca trilogi ketiga buku karya Chin Yung dibawah ini, maka pemahaman kita kurang lebih akan sama.
1. Pendekar Pemanah Rajawali (Sia Tiaw Eng Hiong
2. Kembalinya Pendekar Rajawali/Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar (Sin Tiaw Hiap Lu)
3. Pedang Langit dan Golok Naga (To Liong To)

Hal yang sama juga didapat apabila anda pernah membaca karya Kho Ping Hoo seperti Suling Emas, Mutiara Hitam dsb.

Terdapat berapa kondisi umum dalam dunia kang-ouw yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Pertama, terdapat prinsip ‘diatas langit masih ada langit‘. Dalam dunia kang-ouw, prinsip tersebut menjadi pegangan bagi kalangan pendekar. Prinsip tersebut berarti bahwa sehebat apapun ilmu silat seseorang, (suatu saat) pasti akan ada yang melebihi ilmu silatnya. Ilmu silat (baca: pajak) selalu berkembang, ditambah dan diperbarui sehingga orang yang menjagoi dunia persilatan pun akan selalu berubah. Selain itu, ilmu ginkang (meringankan tubuh) sinkang (tenaga dalam/kanuragan) dan gwa kang (tenaga fisik) akan selalu terus diasah oleh para jago silat tersebut sehingga praktis, tak ada satupun jago yang bisa bertahan lama di puncak piramida. Dengan jurus dan ilmu baru saja misalnya Thi-ki-i-beng (ilmu yang bisa menyedot sinkang lawan), Cia Keng Hong bisa menjadi jago pilih tanding.

Dalam dunia pajak, bisa jadi seseorang jago pajak penghasilan misalnya di suatu daerah, namun dunia tidaklah selebar tempurung. Di daerah lainnya akan terdapat banyak lagi yang lebih jago, belum lagi yang berada di kota raja (Jakarta). Akan tetapi, diatas mereka, masih banyak kita temukan para senior ahli pajak yang lebih paham, diatasnya lagi, di tingkat dunia banyak lagi yang lebih cerdas. Akhirnya sulit dikatakan siapakah yang bisa lebih hebat ilmu pajaknya.

Kedua, sehebat apapun seorang guru, tanpa tulang yang baik (baca: bakat bersilat) dan otak yang cemerlang, maka seseorang akan menjadi pesilat biasa-biasa saja. Tulang yang bagus sebenarnya merupakan prasyarat utama menjadi jago pilih tanding walaupun bisa jadi otak tidaklah terlalu cemerlang. Hal tersebut bisa kita lihat dari Kwee Ceng, Pendekar Pemanah Rajawali, yang dengan kemampuan otak yang terbatas namun dengan ketekunannya (disamping  sifat baik dan keberuntungan tentunya) pada akhirnya mampu menjadi pendekar nomor satu. Hal tersebut berbeda jauh dengan putrinya yang sekaligus muridnya yaitu Kwee Hu, yang hanya mempunyai ilmu silat yang tidak seberapa. Bisa kita bandingkan dengan Yo Ko, misalnya, yang mempunyai bakat dan kecerdasan, dalam usia muda bahkan bisa melampaui pencapaian ilmu silat Kwee Ceng.

Ketiga, sehebat apapun bakat, secerdas apapun pesilat, apabila tidak mempunyai guru yang merupakan pesilat tingkat tinggi, maka hal itu tidak akan berarti. Bisa kita bayangkan apabila Yo Ko tidak bertemu dengan Siao Liong Lie (bibi Lung)  yang kemudian mengajarinya silat dan tidak mendapat petunjuk dari para datuk dunia persilatan seperti Awyang Hong, Ouy Yok Su, Ang Chit Kong, dsb, maka kepandaian Yo Ko tak akan bisa sedemikian hebat.

Pada poin kedua dan ketiga, baik dalam dunia persilatan yang mengutamakan fisik dan kecerdasan, dalam dunia pajak (kita kesampingkan fisik) kecerdasan menentukan pemahaman seseorang akan ilmu pajak sementara keahlian merangkai kata dan beretorika menjadikan aplikasi ilmu tersebut menjadi ampuh. Namun, (seperti halnya Kwee Ceng), sepanjang kita mau berusaha dengan giat, maka lambat laun kemampuan akan bertambah apabila kita mau terus mengasah ilmu dengan terus belajar dan berlatih tanding (baca: berdiskusi). Petunjuk dari para tetua dunia persilatan yang didapat misalnya dengan berdiskusi langsung, mengikuti seminar atau kegiatan lainnya akan sangat membantu kita memahami sendi filosofis ilmu perpajakan.

Keempat, kegigihan dan latihan bertahun-tahun menjadikan ilmu silat meningkat. Dibuku silat manapun, tak ada pesilat yang menjadi ahli tanpa berlatih, tak ada pesilat kelas tinggi yang tak merasakan kerasnya dunia persilatan dengan risiko kematian. Para murid yang sudah siap diharuskan untuk turun gunung menimba pengalaman, karena dunia tak hanya apa yang disampaikan oleh sang guru saja.

Pada poin keempat ini, memang tak terbantahkan lagi, ilmu pajak itu adalah skill (keahlian), bukan hanya mengandalkan pemahaman. Semakin banyak berlatih dan berlatih tanding serta belajar dari banyak pengalaman akan menjadikan seseorang menjadi ahli yang pilih tanding.

Kelima, takdirlah akan sangat menentukan. Dalam dunia kang-ouw, banyak peristiwa dimana nasib baik menjadikan sang pesilat berjodoh dengan suatu hal yang sangat berpengaruh terhadap ilmu silat. Misalnya, nasib baik Kwee Ceng meminum darah ular yang ternyata sudah diberikan ramuan sehingga tenaga dalamnya bisa meningkat. Lalu bagaimana dia bisa berjodoh dengan kitab Kiu Im Cin Keng yang akhirnya menjadikannya jago dunia persilatan. Selajutnya bagaimana beruntungnya Yo Ko diberi makan buah merah penambah tenaga oleh sang rajawali yang ternyata buah tersebut hanya berbuah sekali dalam puluhan tahun.

Poin terakhir memang menunjukkan bahwa kita hanya manusia ‘untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak‘ rejeki dan takdir tidak akan berpindah. Sehebat apapun seseorang berusaha, apabila bukan rejekinya, maka kesempatan tak akan datang. Namun, apabila belum siap, kesempatan yang datang pun akan sia-sia. Apabila sudah rejekinya, siapapun tak bisa menghalangi seperti beruntungnya Kwee Ceng, Yo Ko, dan banyak pesilat lainnya.

Sebagai penutup, penulis menyimpulkan bahwa baik dunia kang-ouw maupun dunia pajak, prinsip-prinsip yang dijelaskan diatas kurang lebih akan sama.

1 Comment

Filed under Belajar

Pahlawan Tanpa Pamrih

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah pertemuan, saya bertemu dengan seorang teman yang ternyata merupakan keturunan dari pahlawan kita Panglima Besar Jenderal Soedirman. Saya merasa senang sekali ketika mengetahui hal tersebut dan alangkah bahagianya bisa bertemu dengan keturunan pahlawan kita yang berjuang demi bangsa dan negara. Saya merasa dia juga ikut bangga atas hal tersebut walaupun hal tersebut tidak ditunjukkannya.

Saya kemudian lantas teringat dengan banyak lagi pahlawan lainnya yang tak dikenal namun pengabdian dan pengorbanannya bagi kemerdekaan bangsa juga sangat besar. Mereka rela mengorbankan segalanya tanpa mengharapkan nama mereka untuk dikenang. Andaikan saja kita bisa tahu siapa saja para pahlawan kita semua.

Saya pun lantas teringat buku biografi yang ditulis sendiri oleh Bung Hatta yang berjudul: Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi.

untuk-negeriku

Pada buku ketiga halaman 91-93 digambarkan secara jelas bahwa pada waktu naskah proklamasi sudah selesai dirancang, maka Bung Hatta menyampaikan sebagai berikut:

“…Kalau saudara semuanya setuju, baiklah kita semuanya yang hadir di sini menandatangani naskah Proklamasi Indonesia Merdeka ini sebagai suatu dokumen yang bersejarah. Ini penting bagi anak cucu kita. Mereka harus tahu, siapa yang ikut memproklamasikan Indonesia merdeka. Ambillah contoh kepada naskah proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat dahulu. Semuanya yang memutuskan ikut menandatangani keputusan mereka bersama.”

Sejenak rapat diam dan tidak terdengar suatu diskusi apa pun tentang yang kuusulkan itu. Tidak lama sesudah itu Soekarni maju ke muka, menyatakan dengan suara lantang. “Bukan kita semuanya yang hadir di sini harus menandatangani naskah itu. Cukuplah dua orang saja menandatangani atas nama rakyat Indonesia, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta.”

Ucapan itu disambut oleh seluruh yang hadir dengan tepuk tangan yang riuh dan muka yang berseri-seri. Aku merasa kecewa karena kuharapkan mereka serta menandatangani suatu dokumen yang bersejarah, yang mengandung nama mereka untuk kebanggaan anak cucu di kemudian hari. Akan tetapi, apa yang dikata?…

Saya dapat membayangkan bahwa alangkah kecewanya Bung Hatta bahwa para pahlawan yang hadir pada waktu itu di rumah Maeda yang berjumlah sekitar 40 s.d. 50 orang yang terdiri dari anggota Panitia Persiapan Kemerkekaan Indonesia, Pemimpin-pemimpin pemuda, beberapa pemimpin pergerakan, dan anggota-angota Cuo Sangi In tidak ikut menandatangani naskah proklamasi. Dengan nama mereka dicantumkan, maka mereka akan terus dikenang sepanjang sejarah.

Apabila anda pernah menonton film National Treasure (2004) yang dibintangi oleh Nicolas Cage, anda mungkin masih ingat bagaimana naskah deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat sangat berharganya yang ditandatangani oleh banyak pahlawan. Tercatat ada 56 orang penandatangan yang namanya akan terus tercatat dalam sejarah Amerika Serikat.

Kembali kepada naskah proklamasi, menurut saya para pahlawan kita yang ikut dalam proses naskah proklamasi setuju dan merasa senang dengan usulan bahwa yang menandatangani cukup Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. Persetujuan tersebut menunjukkan sikap tanpa pamrih para pahlawan tersebut yang berbuat semata-mata untuk kepentingan bangsa Indonesia. Walaupun nama mereka tidak tercantum dalam naskah proklamasi, namun mereka lebih berbahagia akan datangnya kemerdekaan bangsa Indonesia yang sudah lama dinanti-nantikan.

Seharusnya sikap mental para pahlawan kita tersebut ditiru oleh generasi muda kita. Nilai-nilai pengabdian, nasionalisme, dan pengorbanan seharusnya lebih diutamakan daripada pragmatisme hidup dalam budaya konsumerisme dan hedonisme.

Saya hanya bisa berdo’a kepada Allah bahwa pengorbanan tanpa pamrih yang diberikan oleh para pahlawan kita baik yang sudah dikenal maupun yang tidak, akan selalu dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Amien YRA.

*Tulisan ini untuk memperingati hari pahlawan tanggal 10 November 2016

Leave a comment

Filed under Belajar

The Accountant (and Tax)

the_accountan

 

Profesi akuntan tidak akan jauh dari audit dan pajak. Dalam film The Accountant (2016), hal tersebut tergambar jelas bagaimana peran akuntan dalam bidang tersebut. Tulisan ini akan membahas tema terkait dengan pajak yang disinggung dalam film tersebut.

Ada satu hal yang menarik pada awal film dimana sosok sang Akuntan, Christian Wolff (Ben Afleck), digambarkan sedang memberikan jasa kepada sepasang suami istri yang mempunyai usaha peternakan. Dalam  percakapan tersebut, sang istri peternak mengatakan dengan wajah sayu bahwa dia akan membayar pajak terutang dengan menggunakan kartu kreditnya.

Dengan tatapan dingin Wolff, sang akuntan, memperhatikan kalung yang dipakai oleh istri peternak tersebut. Dia lalu menanyakan apakah kalung tersebut sudah pernah dia jual. Sang istri menjawab bahwa dia pernah menjualnya kepada beberapa orang, namun hanya sesekali. Lalu sang akuntan menanyakan tentang dimana dia membuat kalung tersebut, dan dijawab bahwa kalung tersebut dibuat sendiri di rumah. Lalu sang akuntan menyatakan bahwa berarti ada tempat yang digunakan sebagai usaha. Kemudian sang akuntan menanyakan lebih lanjut tentang berapa ukuran tempat usaha tersebut, dan selanjutnya dijawab oleh sang suami dengan ukuran yang sebenarnya. Tak hanya sampai disitu, sang akuntan juga menanyakan kendaraan apa yang digunakan oleh sang istri untuk mengantarkan kalung tersebut, dan didapatlah jawaban bahwa menggunakan truk. Sang akuntan kemudian menyatakan bahwa truk itu adalah truk yang digunakan untuk usaha pembuatan dan penjualan kalung.

Pada akhirnya, sepasang suami istri tersebut dengan wajah berseri-seri diantarkan oleh sang akuntan menuju mobilnya. Mereka dengan wajah senang menawarkan agar sang akuntan dapat mampir ke tempat mereka.

Apa yang membuat suami istri tersebut menjadi (tampak) senang? Apabila kita memperhatikan percakapan antara mereka dengan sang akuntan, maka dapat disimpulkan bahwa kewajiban pajak mereka berkurang karena (sepertinya) akan timbul pengeluaran atas tempat usaha (ruangan yang digunakan), pengeluaran atas transportasi (truk) yang tampaknya tidak akan bisa ditutupi dengan penghasilan dari penjualan kalung tersebut. Dengan demikian, atas usaha rumahan pembuatan (manufaktur) kalung akan timbul rugi yang (mungkin) mengurangi beban pajaknya di Amerika sehingga tidak perlu menggunakan kartu kreditnya (mengutang) untuk membayar pajak.

Hal kedua yang menarik terkait film ini adalah ketika Ray King (J.K. Simmons), dengan pekerjaan di Treasury Department’s Crime Enforcement Division, duduk di sofa dengan meletakkan kaki diatas meja di rumah sang akuntan yang sedang dilakukan penggeledahan. Tiba-tiba terdengar dering telepon yang berasal dari pihak sang akuntan yang meminta kepada Marybeth Medina (Cynthia Addai-Robinson) agar mengingatkan Ray King dengan menyebutnya sebagai Elliot Ness agar tidak berbuat seenaknya di rumah orang. Elliot Ness sebagaimana kita ketahui (mungkin lebih populer di Amerika) adalah pegawai dari Treasury Department di Amerika yang akhirnya bisa menangkap dan memenjarakan Al Capone dengan delik pengelakan pajak.

Sebenarnya banyak hal selain pajak yang bisa dibahas dari film tersebut misalnya tentang autisme yang sangat menyentuh hati atau audit forensik, namun hal itu tidak bisa dibahas disini.

 

Leave a comment

Filed under Belajar

Logika Penalaran dan Penafsiran Pajak

Diskursus dan Metode - Pajak

Pendahuluan

Hari ini saya baru saja membaca buku terjemahan karya filsuf, ahli sains dan ahli matematika dari Prancis René Descartes dengan judul Diskursus dan Metode, Mencari Kebenaran dalam Ilmu-Ilmu Pengetahuan.

Layaknya sebuah buku tentang filsafat (yang saya masih sangat awam terhadap bidang ilmu ini), buku ini merupakan hasil pemikiran yang sangat mendalam dari sang Bapak Filsuf Modern. Pengalamannya yang sudah melanglang ke banyak negara menunjukkan pemahamannya akan perbedaan adat istiadat yang kemudian dihubungkan dengan logika nalar. Berikut adalah kutipan yang menarik menurut saya terkait hal tersebut:
…banyak manfaatnya mengenal adat istiadat pelbagai bangsa, agar kita dapat menilai budaya kita sendiri secara lebih wajar, dan agar kita tidak beranggapan bahwa segala sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan kita adalah konyol atau berlawanan dengan nalar, seperti anggapan orang-orang yang tidak pernah mengenal negeri lain. Namun, bila terlalu banyak waktu digunakan untuk berkelana, seseorang akan menjadi asing di negerinya sendiri, dan bila terlalu asyik mempelajari hal-hal yang menjadi kebiasaan masa lalu, ia akan menjadi asing terhadap kebiasaan zamannya sendiri.

Namun, yang menjadi kekuatan karya ini adalah tentang kaidah pokok metode Penalaran. Descartes, menggariskan metode ilmiah dengan penalaran yang hati-hati dengan tahapan sebagai berikut:
Pertama, tidak pernah menerima apapun sebagai benar kecuali jika saya tidak mengetahuinya secara jelas bahwa hal itu memang benar; artinya menghindari secara hati-hati pengumpulan terlalu cepat dan prasangka; dan tidak memasukkan apa pun dalam pandangan saya kecuali apa yang tampil amat jelas dan gamblang di dalam nalar saya, sehingga tidak akan ada kesempatan untuk meragukannya.
Kedua, memilah satu persatu kesulitan yang akan saya telaah menjadi bagian-bagian kecil sebanyak mungkin atau sejumlah yang diperlukan, untuk lebih memudahkan penyelesaiannya.
Ketiga, berpikir secara runtut, mulai dari obyek-obyek yang paling sederhana dan paling mudah dikenali, lalu meningkat setahap demi setahap sampai ke masalah yang paling rumit, dan bahkan dengan menata dalam urutan obyek-obyek yang secara alamiah tidak beraturan.
Terakhir, dimana-mana membuat perincian yang selengkap mungkin dan pemeriksaan yang demikian menyeluruh sampai saya yakin bahwa tidak ada yang terlupakan.

Penalaran Pajak

Metode tersebut dapat kita terapkan pada pajak. Misalnya kita ingin mengetahui tentang “hybrid instrument” dalam konteks perpajakan domestik dan internasional. Langkah pertama yang kita terapkan adalah dengan berhati-hati mengumpulkan data dan informasi dari sumber yang relevan dan dapat dipercaya. Informasi tersebut haruslah diteliti secara mendalam sehingga secara nalar dapat dipercaya. Dengan langkah tersebut, maka akan didapati banyak informasi tentang konsepsi “hybrid“, “hybrid entities“, “hybrid instruments“, serta perspektif aturan hukum pajak berbagai negara yang berbeda sebagai penyebab adanya “hybrid” ini. Oleh karena itu, maka langkah selanjutnya adalah dengan membagi informasi yang didapat serta permasalahan-permasalahannya dalam bagian-bagian kecil. Pemisahan dan lokalisasi ide dan permasalahan tersebut akan membantu dalam menyelesaikan masalah yang timbul. Selanjutnya, langkah yang diambil adalah dengan menyelesaikan masalah dari yang paling sederhana secara bertahap menuju permasalahan yang semakin kompleks dan kemudian menata urutan-urutan konsepsi dan permasalahan menjadi lebih terstruktur dan sistematis sehingga didapatkan gambaran secara lebih utuh dan tidak terpecah-pecah. Langkah terakhir adalah membuat rincian dalam setiap tahap dan melakukan pengecekan ulang akan kebenaran penalaran.

Penafsiran Pajak

Dalam konteks pajak domestik, Ahli hukum pajak Profesor R. Santoso Brotodihardjo, SH dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum Pajak menyebutkan bahwa penafsiran hukum dapat terdiri dari:
  1. Penafsiran menurut ilmu tata bahasa
  2. Penafsiran menurut sejarah terjadinya hukum
  3. Penafsiran menurut sejarah terjadinya Undang-Undang
  4. Penafsiran secara sistematis
  5. Penafsiran secara sosiologis
  6. Penafsiran menurut analogi
  7. Penemuan hukum

Pertanyaannya, apakah penalaran pajak sama dengan penafsiran pajak?

Dalam konteks pajak internasional, untuk memahami maksud suatu Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B), terdapat penafsiran berdasarkan pilihan static atau ambulatory.

Pertanyaannya, apakah penalaran pajak sama dengan penafsiran pajak?

Simpulan

Sepertinya kita harus kembali lagi pada metode tadi untuk menjawab pertanyaan yang diungkapkan dan menyelesaikan masalah yang ada secara ilmiah.

Leave a comment

Filed under Belajar