Penyetahunan Penghitungan PPh Pasal 21

Penghitungan PPh Pasal 21 memang bervariasi sekali sesuai dengan objeknya dan tarif yang diterapkan atas objek tersebut. Variasi lainnya adalah dalam penyetahunan penghitungan PPh Pasal 21.

Apa itu penyetahunan? Penyetahunan merupakan penghitungan pajak atas objek pajak yang penghasilannya tidak penuh dalam satu tahun pajak akan tetapi untuk kepentingan perpajakan penghasilan tersebut dihitung setahun penuh. Mengapa? Hal tersebut sesuai dengan pasal pada 2A ayat 6 UU PPh bahwa apabila kewajiban pajak subjektif orang pribadi yang bertempat tinggal atau yang berada di Indonesia hanya meliputi sebagian dari tahun pajak, maka bagian tahun pajak tersebut menggantikan tahun pajak.

Bagaimana konsep penyetahunan PPh Pasal 21? Konsep penyetahunan sebagaimana diuraikan diatas sebenarnya adalah apabila kewajiban pajak subjektif (menjadi subjek pajak) hanya meliputi sebagian tahun pajak. Apabila kewajiban pajak subjektif tersebut tidak genap, maka perlu ditentukan apakah penghitungannya disetahunkan atau tidak. Dalam hal ini parameter pengukurnya adalah kapan saat mulai dan berakhirnya orang pribadi tersebut menjadi subjek pajak atau disebut juga dengan saat timbul dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif.

Sebelum memulai penghitungannya, ada baiknya kita bahas kewajiban pajak subjektif dulu. Sesuai pasal 2A ayat 1 UU PPh bahwa untuk orang pribadi subjek pajak dalam negeri kewajiban pajak subjektif timbul saat ia dilahirkan dan berakhir saat ia meninggal atau meninggalkan indonesia untuk selama-lamanya. Sementara untuk orang pribadi subjek pajak luar negeri, sesuai pasal 2A ayat 4 bahwa kewajiban pajak subjektif dimulai sejak yang bersangkutan memperoleh penghasilan dari indonesia dan berakhir sejak saat tidak lagi memperoleh penghasilan dari indonesia. Ada beberapa keadaan yg bisa menggambarkan penyetahunan sesuai penjelasan diatas yaitu:

1. Kewajiban subjektif sudah ada sejak awal tahun tapi baru mulai bekerja dalam tahun berjalan.
(dalam hal ini kewajiban pajak subjektif penuh 1 tahun dari awal tahun s.d. akhir tahun sehingga penghitungannya tidak disetahunkan) Sebagai contoh Tuan Amir, status belum kawin (TK/-) Baru lulus kuliah bulan Juli 2007, pada bulan Agustus diterima bekerja di PT. Angpao, sebulan ia menerima gaji sebesar Rp. 6 juta. Penghitungan PPh 21nya sbb:

Amir21

Kewajiban pajak subjektif sudah ada sejak awal tahun dan mulai bekerja dalam tahun berjalan – Tidak Disetahunkan

2. Kewajiban pajak subjektif sudah ada sejak awal tahun dan berhenti bekerja dalam tahun berjalan
(dalam hal ini kewajiban pajak subjektif tetap setahun penuh mulai awal tahun s.d. akhir tahun-berhenti bekerja tdk menghapus status sebagai subjek pajak sehingga penghitungan PPh pasal 21 tidak disetahunkan). Sebagai contoh spt no.1 , Tuan Amir pada bulan Maret 2008 berhenti bekerja pada PT. Angpao. Penghitungan PPh 21nya pada bulan Maret 2008 sbb:

Kewajiban pajak subjektif berakhir dalam tahun berjalan - Tidak Disetahunkan

Kewajiban pajak subjektif sudah ada sejak awal tahun dan berhenti bekerja dalam tahun berjalan – Tidak Disetahunkan

3. Kewajiban pajak subjektif baru dimulai dalam tahun berjalan
(dalam kasus ini penghitungan pph pasal 21nya disetahunkan karena kewajiban pajak subjektifnya tidak penuh 1 tahun) sebagai contoh Mr. Richard warga amerika dikontrak selama 2 tahun oleh PT. Angpao untuk bekerja sebagai quality control mulai bulan September 2008 dengan gaji sebesar Rp. 6.000.000,- sebulan. Karena kewajiban pajak subjektifnya hanya 4 bulan dan baru dimulai dalam tahun berjalan yaitu bulan september, maka penghitungan PPh Pasal 21nya disetahunkan. Penghitungan PPh Pasal 21 untuk bulan september adalah sbb:

Amir21

Kewajiban pajak subjektif mulai dalam tahun berjalan – Disetahunkan

4. Kewajiban pajak subjektifnya berakhir dalam tahun berjalan-meninggal dunia.
(dalam kasus ini karena kewajiban pajak subjektifnya tidak penuh 1 tahun karena meninggal dunia, maka penghitungannya disetahunkan). Sebagai contoh pada bulan Juni 2008 Amad,karyawan PT. Angpao meninggal dunia karena terkena malaria. Oleh karena kewajiban pajak subjektifnya dalam tahun 2008 tidak genap 1 tahun,hanya 6 bulan dari januari s.d. Juni, maka penghitungan PPh Pasal 21 nya disetahunkan.

Amir21

a. Kewajiban pajak subjektif berakhir dalam tahun berjalan – Ketika Masih aktif bekerja

Amir21

b. Kewajiban pajak subjektif berakhir dalam tahun berjalan – Disetahunkan

5. Kewajiban pajak subjektif berakhir dalam tahun berjalan-meninggalkan indonesia untuk selama-lamanya.
(dalam kasus ini karena kewajiban pajak subjektifnya tidak penuh 1 tahun karena meninggalkan indonesia untuk selama-lamanya, maka penghitungannya disetahunkan) Sebagai contoh Mia Audina, karyawan PT. Angpao pada bulan april 2008 berhenti bekerja karena akan pergi ke Hongkong dan status kewarganegaraannya sudah berubah menjadi warga negara Cina. Sama seperti no. 4 karena kewajiban subjektifnya tidak penuh 1 tahun, maka penghitungannya disetahunkan.

Selain konsep penghitungan tersebut diatas, ada lagi 2 keadaan yang juga berpengaruh pada penghitungan penyetahunan yaitu karyawan pindah perusahaan tempat kerja dan karyawan pindah cabang dalam perusahaan yang sama. Perhitungannya akan dibahas dalam artikel berikutnya.

About these ads

Leave a comment

Filed under PPh PotPut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s